TOLERANSI DARI MERAPU

Ilustrasi Islam
Ilustrasi

Toleransi dari Marapu

Monday, 26 November 2012 16:41 Endah Kurnia dan Ikhsan Raharjo Hits: 40

KBR68H – Perbedaan agama bukan jadi soal bagi masyarakat adat di Sumba Barat. Di sana, penganut agama leluhur Marapu hidup berdampingan agama lainnya. Meski begitu, para penganut Marapu berharap negara mengakui sebagai agama.

Lapangan Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya, lebih ramai dari biasanya. Ribuan orang berkumpul di lapangan tersebut. Kebanyakan mereka adalah warga lokal. Namun tak sedikit turis asing.

Di sudut lapangan, empat perempuan dan satu lelaki tua berpakaian adat lengkap membawakan tarian ritual sambil diiringi musik tradisional Sumba.

Sementara di tengah lapangan, ada dua puluhan kuda lengkap dengan penunggangnya. Sambil membawa tongkat kayu sepanjang satu meter, para penunggang kuda itu siap memainkan Pasola.

Pasola adalah rangkaian upacara tradisional tahunan penganut agama Marapu. Agama asli orang Sumba. Ritual lempar lembing di atas kuda ini biasanya digelar tiap awal tahun, menandai datangnya tahun baru. Pasola pun diniatkan sebagai wujud rasa syukur kepada Dewi Nyale atas kesuburan dan kemakmuran di tanah Sumba.

Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Sumba Barat Daya John Geli menuturkan,"Peristiwa pasola ini merupakan suatu peristiwa ritual dalam rangka mereka mencoba kebiasaan masyarakat adat disini dalam upacara adat ini. Kalau dalam upacara adat ini ada istilah pengambilan nyale. Jadi kalau nyale itu sebelum hari H, malamnya itu ada pengambilan nyale, kalau nyale yang diperoleh itu banyak maka diprediksi hasil panen itu akan berhasil tapi kalau hasil nyale juga terbatas maka dianggap produksi hasil-hasil bumi baik pertanian maupun pertenakan itu dianggap kurang. Jadi dipresiksi tingkat kelaparan itu akan ada pada tahun-tahun berikutnya."

Ritual ini lahir sejak ratusan tahun silam. Jauh sebelum republik ini lahir. Ketua Kampung Adat Waitabar, Dani Ladu Ringgulangu mengatakan tradisi tersebut diwariskan turun-temurun oleh penganut Marapu.

“Kalau cara berdoa seorang agama Marapu dia tidak setiap hari atau orang Kristen atau seperti agama apapun yang tiap hari dia ada sholat, ada sembahyang rumah tangga, ada doa makan, dia tidak. Ada hari-hari yang tertentu,” jelasnya.

Namun tidak semua orang Sumba menganut Marapu. Separuh dari mereka telah berganti agama. Salah satunya adalah anak perempuan Dani Ladu Ringgulangu. Mariana Magitalo mengaku telah berpindah agama Kristen sejak masih kanak-kanak.

“Awal mulanya dulu tante, waktu masih kecil suka ikut tante ke gereja. Jadi sudah ada niat. Dulu kan belum ada TK jadi langsung SD. (Dari umur berapa?) Umur 5 tahun. Itu minta sendiri,” terangnya.

Hal yang sama juga terjadi pada Lewu, anak sulung Dani. Meski Lewu telah berpindah agama, namun dia masih meyakini Marapu sebagai kepercayaannya.

“Saya kedua-duanya percaya karena ditengah-tengah keluarga saya ini kan kepercayaan marapu semua. Walaupun saya Kristen tapi bukan berarti saya lupa akan agama marapu. Karena saya hidup di tengah-tengah keluarga yang masih menganut agama marapu,” imbuhnya

Perpindahan agama ini ternyata bukan masalah bagi ayah mereka yang seorang ketua kampung adat. Di kampung itu, bukan barang aneh bila ada satu keluarga yang anggotanya memeluk agama Marapu, Katolik, dan Kristen.

“Keinginan mereka sendiri dan itu juga kemauan saya sendiri juga. Jangan kita, anak-anak terus kita biarkan saja terus tidak punya iman. Pasti kita melahirkan anak, pasti kita punya iman. Sesudah punya iman pasti punya agama,” jelas Mariana.

Perbedaan ini juga bukan masalah di Tanah Sumba. Penganut agama Merapu seperti Yuliana Leda Tara melihat perbedaan itu sebagai anugerah.

“Kalau orang marapu itu sangat menghargai agama lain. Misalnya di kampong sini kan banyak anak yang masih di bangku pendidikan yang sudah Kristen. Kalau pas natal dirayakan sama-sama. Orang marapu juga ikut kumpul uang untuk beli bahan-bahan untuk bisa merayakan natal. Begitu juga kalau misalnya ada upacara idul fitri buat muslim, kami semua pergi untuk mengunjungi kelauarga-keluarga muslim yang kami kenal. Jadi gak ada masalah sama sekali,” ungkapnya.

Kembali ke upacara tahunan Pasola. Hari semakin terik. Tapi Lapangan Kodi semakin padat. Para penunggang kuda mulai melempar lembing kayunya ke arah penunggang lain. Penonton bersorak.

Ketenangan di kampung adat itu belum dirasakan di bangku pendidikan. Pasalnya, anak penganut agama Marapu mendapat diskriminasi dari sistem pendidikan. Seperti apa kisahnya?

http://kbr68h.com/saga/77/41002-toleransi-dari-marapu

Diskriminasi Pendidikan

“Bukan memilih pelajaran agama. Pas masuk ditanya. Agama apa? Trus waktu itu kan marapu belum diakui sebagai aliran kepercayaan jadi saya bilang saya marapu. Tapi guru-gurunya bilang kalau begitu cari sekolah marapu. Ya tentu saja tidak ada sekolah marapu jadi dengan begitu, kami harus pilih salah satu agama yang diakui di Indonesia,” ungkap Yuliana Leda Tera seorang penganut agama Marapu. Dia ingat betul diskriminasi yang dirasakan ketika duduk di bangku sekolah. Dia dipaksa mengakui agama lain oleh gurunya.

Hal yang sama juga dialami penganut agama leluhur masyarakat Sumba lainnya. Demi mendapat ijazah sekolah, Umbu Daungu terpaksa mengubah keyakinannya.

“Waktu itu saya masih SD kelas 6, begitu abis ujian disuruh cari nama agama, Kristen. Karena mo dapat STTB, ijazah, terpaksa pilih nama,” terangnya.

Di bangku sekolah, anak-anak penganut Marapu dipaksa belajar agama lain. Ini karena negara hanya mengenal enam agama resmi saja. Pejabat dari Kantor Wilayah Kementerian Agama di Sumba Barat Laurensius Juang pun mengklaim tidak bisa memberi pendidikan agama khusus Marapu.

“Dari pemerintahnya belum ada pikirannya ke arah situ. Jadi siswa memang menerima pelajaran agama yang sudah diakui secara sah saja. Apalagi kalau mau dikhususkan untuk pelajaran agama kepercayaan marapu itu tenaga gurunya juga tidak ada. Agama-agama yang sudah sah saja, yang diakui resmi di republik ini saja belum semua sekolah melayani. Karena kekurangan tenaga guru agama,” tambahnya.

Masyarakat adat berharap Marapu diakui negara sebagai agama. Ketua Kampung Adat Waitabar, Dani Ladu Ringgulangu ingin agama leluhurnya itu diakui seperti agama lainnya.

“Bahwa marapu ini dia harus masuk agama ini, marapu ini harus masuk agama ini. Juga dengan anak saya misalnya masuk Kristen ada saya punya nenek masuk nenek masuk Kristen, ada saya punya saudara atau bapak yang masuk, tidak di dorong oleh pendeta. Tidak boleh bilang harus tinggalkan marapu. Dia tidak boleh mengatakan. Adik saya juga ada yang masuk islam. Tidak ada penasehat ini yang suruh adik saya harus masuk islam. Kalau dia mau ya silakan,” kata Dani.

Namun permintaan itu sepertinya jauh panggang dari api. Pasalnya, pengakuan Marapu sebagai agama resmi agaknya mustahil terjadi. Wakil Bupati Sumba Barat Reko Deta bersikukuh menganggap Marapu hanya sebagai aliran kepercayaan saja.

“Masalahnya dia tidak punya tulisan-tulisan, buku tidak ada. Kan tidak ada tulisan yang mengatakan. Kan agama lain punya alkitab, punya alqur’an. Ini kan tidak punya. hanya sejarah saja dia cerita-cerita saja. Jadi agak susah kalau dijadikan sebagai agama,” jelasnya.

Meski begitu, pemerintah setempat berjanji terus mendukung kebudayaan Marapu seperti ritual Pasola.
“Kepercayaan marapu ini dia hidup dari dulu, dari turun temurun, dari nenek moyang dan sampai sekarang masih ada. Ini ada kaitannya dengan budaya, Budaya Sumba, kalau pemerintah, setiap ada upacara-upacara adat kita fasilitasi,” imbuhny
a.

Meski tanpa pengakuan negara tapi penganut Marapu yakin ajaran leluhurnya itu menuntun masyarakat Sumba ke arah kebenaran. Yuliana Leda Tera, “Kalau saya sebagai agama, karena sebenarnya di dalam Marapu juga, cuma karena faktor bahasa saja jadi orang tidak mengerti. Tapi Marapu juga misalnya percaya dengan Yesus Kristus, atau percaya juga dengan muslim juga. Bahwa muslim itu juga satu agama yang suci juga seperti Marapu. Jadi itu sama tidak ada bedanya. Kalau menurut saya sebuah agama sebenarnya. Cuma, karena orang-orang dulu itu tidak bukukan, tidak ada alkitabnya. Dan karena faktor buta huruf orang yang penganutnya itu, jadi dianggap sebagai aliran kepercayaan. Bagi saya sendiri itu sebuah agama.”

http://kbr68h.com/saga/77/41002-toleran … pu?start=1

Faithfreedom Indonesia
Faithfreedom forum static
Faithfreedompedia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: