Indonistan: Bola Gelinding Lia Eden,Ahmadiyah, Anand Krishna

Ilustrasi Islam
Ilustrasi

Indonistan: Bola Gelinding Lia Eden, Aliran Sesat, Ahmadiyah, Syiah, Anand Krishna

http://hukum.kompasiana.com/2013/02/22/indonistan-bola-gelinding-lia-eden-aliran-sesat-ahmadiyah-syiah-anand-krishna-535947.html

OPINI | 22 February 2013 | 02:01
Dibaca: 669 Komentar: 4 2 aktual

Lautan Internasional Membelah Indonesia

Informasi di internet belum tentu benar, akan tetapi kadang kala sudah bisa membuat berdiri bulu roma. Pernah terbaca di internet bahwa kesadaran saudara-saudara kita dari Bali sangatlah luar biasa. DNA kebesaran jiwa masih tersimpan rapi di dada mereka. Kalau saja saudara-saudara kita di Bali terprovokasi Bom Bali I 2002 dan Bom Bali I 2005, atau terprovokasi tindakan kekerasan terhadap warga Bali pada tahun lalu di Lampung dan Sumba, apa yang akan terjadi? Bali mempunyai hubungan internasional yang baik, bila tersulut dan ingin merdeka akan banyak negara luar negeri yang mendukung. Bila merdeka, Bali berhak punya lautan internasional, jalan keluar ke samudera luas. Selat Bali dan Selat Lombok akan menjadi perairan internasional. Armada-armada raksasa dari negara adikuasa bisa berseliweran di sana. Dan, terbelahlah Indonesia. Akan muncul Negara Papua dan lainnya di sebelah timur dan demikian pula beberapa negara di bagian barat. Diduga ada provokasi untuk memecah-belah Indonesia dengan membuat panas Bali. Kita jelas tidak menghendaki itu. Tetapi diduga ada kelompok yang tidak peduli dengan selalu memprovokasi Bali. Ada kelompok yang tidak sadar bahwa mereka telah menjadi agen pemecah-belah bangsa. Banyak pemimpin di India dan Pakistan yang menyesal dengan berpisahnya Negara Pakistan dengan India di tahun 1947. Mengapa kita tidak belajar juga? Bagaimana pun masyarakat dan Pemerintah khususnya Angkatan Bersenjata harus mempertahankan integrasi NKRI.

Pernah juga terbaca di internet bahwa virus-virus disintegrasi bangsa yang berbahaya sudah memasuki tubuh kita. Jumlahnya tak besar memang, tetapi mereka tak bisa dibiarkan. Bila para kesatria acuh-tak acuh demi kekuasaan. Bila para wakil rakyat terbius kemewahan. Bila masyarakat yang paham diam. Kondisi akan semakin mengenaskan. Lebih dari 80% masyarakat memang hanya diam dan mengikuti saja. Bila virus-virus berkesadaran muncul, cukup 10% virus yang baik maka tubuh kita kembali sehat. Masihkah kita diam dengan berbagai pertimbangan? Pantas beberapa pakar bilang bahwa kita telah kehilangan kepekaan terhadap hal-hal yang mendesak. Lack of Urgency. Bangkitlah saudara-saudara putra-putri Ibu Pertiwi. Arwah para founding fathers kita bersimbah air mata. Tahun 1908 Kebangkitan Nasional, tahun 1928 Sumpah Pemuda, tahun 1945 Indonesia Merdeka. Dan saat ini Pemuda-Pemudi kita asyik berchatting-ria. Bangunlah! Air bah bencana sudah setinggi dada! Informasi di internet belum tentu benar akan tetapi nasehat yang baik perlu direnungkan dalam-dalam dan diikuti juga.

Belajar dari “Tuanku Rao” di awal Abad 19

Dari informasi di internet juga diperoleh nasehat bahwa mereka yang hanya mencari kesejahteraan bagi keluarga mereka sendiri, semestinya membaca buku “Tuanku Rao”, Mangaraja Onggang Parlindungan, LkiS, 2007. Buku “Tuanku Rao” mengungkapkan bahayanya Tuanku Lelo seorang ultra konservatif di Minangkabau yang mengobrak-abrik masyarakat yang sudah merasa nyaman dan melalaikan bahaya yang mengancamnya. Keluarga Istana Pagaruyung dihabisi justru bukan dari musuhnya yang berbeda keyakinan, akan tetapi dari musuh dalam selimut yang merupakan kelompok ultra konservatif. Kesejahteraan keluarga tidak ada artinya bila negara berada dalam keadaan teror yang berkepanjangan. Seorang sahabat di Pakistan juga menyampaikan hal yang sama.

Bola Kekerasan Yang Menggelinding Terus, Who’s Next?

Membaca beberapa informasi dari internet, nampaknya masyarakat Indonesia mudah diprovokasi khususnya bila sentimen keyakinan dijadikan landasan. Pemerintah sering menutupi akar permasalahan sentimen keyakinan. Peristiwa yang terjadi beberapa kali di Ambon pun diduga mempunyai nuansa yang sama. Bola gelinding dimulai dari yang nampaknya benar-benar sesat sampai yang diduga masih abu-abu. Lia Eden 2009, beberapa aliran sesat beberapa tahun terakhir, Ahmadiyah Cikeusik 2011, Syiah Sampang 2012, GKI Yasmin sampai Anand Krishna. Who’s next?????

[color=#FF0000]Pernah saat search google: “Video Kesaksian Alasan Anand Krishna Dikriminalisasikan”, kita melihat video kesaksian yang berani dan mengagetkan dari seorang dosen perempuan dan wartawan senior. Isinya mengungkap mengapa Anand Krishna dikriminalisasikan. Bila dibunuh Anand Krishna akan menjadi martir dan pandangan kebangsaannya semakin berkembang. Oleh karena itu Anand Krishna perlu dibunuh karakternya dan dijebloskan ke penjara lewat rekayasa kasus, karena ada pihak-pihak yang tak suka dengan gerakan integrasi nasional dan global harmoni. Disebutkan di video bahwa ada kelompok yang hendak mengganti dasar negara Pancasila.[/color]

Konflik Atas Nama Sara

Dari internet juga diperoleh informasi bahwa konflik atas nama agama terus meningkat eskalasinya. Persoalan kekerasan karena intoleransi menjadi antitesis bahwa Indonesia mengakui keberagaman. Penyerangan, pembakaran, penyegelan, pengusiran, bahkan pembunuhan terhadap kelompok yang dianggap sesat terus saja terjadi. Anand Krishna tidak dibunuh karena kalau dibunuh akan menjadi martir dan pandangan kebangsaannya akan berkembang. Anand Krishna perlu dibunuh karakternya, agar pandangannya tentang integrasi bangsa tidak berkembang. Demikian dapat kita lihat dari video kesaksian mengapa Anand Krishna harus dibungkam.

Dari internet juga diperoleh informasi bahwa Putusan Kasasi batal demi hukum karena tidak terpenuhi aturan formal sesuai dengan pasal 197 KUHAP. Keharusan untuk terpenuhi pasal 197 ayat 1 dalam mempidanakan seseorang telah diputuskan oleh Mahkamah Konstitusi tanggal 22 Nov 2012 lalu. Bahkan Komisi III DPR secara spesifik meminta kejagung untuk melaksanakan putusan MK ini agar memenuhi rasa keadilan masyarakat dan tatanan hukum di Indonesia. Akan tetapi terhadap Anand Krishna tetap dilakukan eksekusi paksa walau aturan formal pasal 197 KUHP tidak terpenuhi. Silakan baca artikel dengan search di google: Kompasiana Membungkam Anand Krishna: dari Mafia Hukum sampai Upaya Paksa Preman.

Nampaknya pemerintah gagal menjamin rasa aman bagi warga negaranya, tanpa harus membeda-bedakan latar belakang sosial warga negaranya. Pemerintah terkesan gagap, canggung dan selalu saja terlambat mengatasi persoalan. Maka tak heran, apabila publik banyak menilai pemerintah absen dengan melakukan banyak pembiaran terhadap kasus-kasus kekerasan atas nama agama. Bagaimana pemerintah –dari level daerah sampai pusat, melihat persoalan kekerasan atas nama agama. Tentu, faktor-faktor lain seperti adanya syiar kebencian (hate speech), perdebatan tafsir antar-aliran, motif perebutan sumberdaya ekonomi, dan lain-lain juga tidak bisa dinegasikan. Sumber artikel dari search di google: “Dan Pembunuh-pembunuh Itu Masih Bergentayangan.”

Setara Institute melaporkan, kekerasan berbasiskan agama sepanjang tahun 2007 sebanyak 135 kasus, tahun 2008 menjadi 265 kasus, 2009: 200 kasus, 2010: 216 kasus, lalu meningkat k
embali pada tahun 2011 menjadi 244 kasus. Korban terbanyak adalah jemaat Ahmadiyah dan umat Kristiani

Golongan Ultra Konservatif

Dari internet kita juga bisa membaca artikel dengan search di google: “Pendidikan anak bagi masa depan bangsa dan pengaruh golongan ultra konservatif.”

Sebuah buku,”ILUSI NEGARA ISLAM” Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia, dengan Editor Abdurrahman Wahid, Prolog dari Profesor Dr. Ahmad Syafii Maarif, dan Epilog dari KH.A. Mustofa Bisri, LibForAll Foundation 2009, telah mengingatkan kita. Segala kemuliaan atas diri mereka dan timnya, dimana saat para kolega mereka memikirkan pucuk jabatan di negara kita, dengan membentuk berbagai koalisi bagi pilpres, mereka malah mendukung buku yang mencerahkan bangsa.

Sebuah buku yang mendirikan bulu roma dan memicu kesadaran warga negara Indonesia. Selama ini kita terlalu egois, terlalu nyaman dengan “comfort-zone”, padahal “comfort” dalam panci yang sedang direbus, amat berbahaya. Buku tersebut mengingatkan kita semua ibarat kodok rebus, yang terlena kehangatan, dan kalau tidak segera sadar tubuh kita akan mengelupas dan menemui ajal. Dalam buku Ilusi Negara Islam diberikan contoh nyata tentang seorang murid kelas 4 SD di Bekasi menyebut orang tuanya kafir, ketika mereka masih melihat tivi saat kumandang azan terdengar lewat loudspeaker mesjid. Seorang siswi SMP di Tangerang juga menuding ibunya akan masuk neraka karena tidak memakai jilbab.

Kondisi Gawat Darurat bagi Integrasi NKRI

Wandy N Tuturoong dalam Kata Pengantar “Membebaskan Indonesia dari Talibanisme” dalam buku “Surat Cinta Bagi Anak Bangsa” , Anand Krishna, One Earth Media, 2006 menyampaikan: “Wajah ruang publik yang kian lama mengalami radikalisasi ini membuat wajah keagamaan masyarakat menjadi kian muram. Bukan saja pemikiran, tetapi “talibanissi” sudah pula menyerbu masyarakat melalui gaya hidup kearab-araban yang tanpa sadar telah ikut disebarluaskan melalui media massa di Indonesia. Jika saja tidak ada counter melalui kampanye dan pendidikan secara ekstensif dan intensif, sulit sekali membayangkan masa depan Indonesia yang plural dan damai bagi semua.”

Dalam buku “Surat Cinta Bagi Anak Bangsa” , Anand Krishna, One Earth Media, 2006 disampaikan: “Saya pernah mendengar tentang pengakuan seorang politisi senior : Kita akan menggunakan demokrasi untuk mencapai tujuan kita,yaitu menjadikan syariat agama sebagai landasan bernegara. Setelah itu, demokrasi barat akan kita tinggalkan untuk selamanya…… Hal yang sama dikatakan pula oleh seorang pengacara senior asal Algeria tentang partai garis keras di sana, front Islamique du salut (FIS) atau Front Keselamatan Islam. Masih juga mengutip laporan Milton Viorst, menurut Ali Haroun, pengacara dan pejuang hak asasi tersebut : Setidaknya FIS jujur dalam pernyataan bahwa mereka tidak demokratis, mereka anti demokrasi … bahwa setelah kekuasaan berada di tangan mereka, tidak akan ada pemilihan umum lagi. Adalah Shura, sekelompok agamawan yang akan menentukan segala sesuatu. FIS menyatakan bahwa mereka hanya menggunakan sarana pemilihan umum untuk meraih kekuasaan. Setelah itu no more elections.”

Generasi anak cucu kita akan menuntut kita semua. Wahai kakek-nenek, opa-oma apa yang telah kalian lakukan bagi Ibu Pertiwi? Mengapa kalian membiarkan negeri NKRI terpecah-belah? Mengapa kalian hanya mementingkan kesejahteraan pribadi? Mengapa demi uang kalian rela menggadaikan negeri? Mengapa melupakan Ibu Pertiwi tempat engkau dilahirkan, makan-minum berkarya sampai mati?

Sumber dari berbagai informasi di internet. Disusun oleh TW.

Faithfreedom Indonesia
Faithfreedom forum static
Faithfreedompedia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: