Agama Lokal Minta Diperlakukan Sama Dengan Agama Impor

http://www.beritasatu.com/mobile/nasion … lokal.html

Selasa, 24 April 2012 | 12:17

Dialog Komunitas Adat "Kepercayaan/ Agama Asli dan Posisinya Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia" di Kongres Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Ke-4 di Halmahera Utara, 19-25 April 2012.
Agama Impor Bersumber dari Agama Lokal
Agama monoteis kekerabatan kemudian tersusun menjadi agama monoteisme-monarkhial setelah pembentukan kerajaan di kemudian hari.

Agama lokal selalu menarik untuk dibicarakan. Dalam studi antropologi abad 19 dan abad 20 agama lokal disebut bermacam-macam. Ada yang menyebut animisme/ dinamisme, ada yang sebut agama suku atau agama pre-literer.

Semua sebutan itu merujuk pada makna agama bagi orang-orang berperadaban rendah. Demikian disampaikan Julianus Mojau, Rektor Universitas Halmahera dalam Dialog Komunitas Adat "Kepercayaan/ Agama Asli dan Posisinya Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia" di Kongres Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Ke-4 di Halmahera Utara, 19-25 April 2012.

"Saya lebih senang menyebut agama lokal sebagai agama kekerabatan. Agama manapun secara antropologis pada mulanya adalah agama keluarga, kekerabatan dalam komunitas kultural tertentu,"ujar Julianus.

Atas dasar bahwa semua agama bermula dari kekerabatan, ia mengusulkan semua agama dari komunitas etnis di Indonesia seharusnya memiliki posisi yang sederajat. "Kepercayaan Yehuwa dalam tradisi Agama Yahudi dan Kristen pada awalnya adalah agama nenek moyang Abraham, Ishak, Ismail dan Ya’kub. Seperti juga O Gomanga sebagai kepercayaan semua sub etnis Tobelo, Galela, Loloda dan Tobaru yang sekarang mendiami Halmahera," kata Julianus.

Alasan kedua, menurut Julianus, karena semua agama juga mengandung aspek edukatif dan memiliki daya membentuk kepribadian yang kuat, seperti agar manusia berbudaya, etis baik secara sosial maupun sosial.

Ketiga, orang yang berbudaya adalah beragama, juga setiap orang beragama adalah orang berbudaya. "Dalam masyarakat lokal pra aufklarung tidak ada pemisahan antara agama dan budaya," ujarnya. Setiap agama yang lahir merupakan hasil dari proses kultural manusia. Dan setiap kultur akan mengkristal menjadi agama.

Keempat, setiap agama lokal juga memiliki kesadaran monoteis. Hanya saja dalam masyarakat lokal konsep monoteis lebih bersifat nomaden bersifat cair dan terbuka. "Inilah ciri agama lokal di nusantara jauh sebelum agama monoteis monarkhial masuk ke Indonesia," katanya.

Kelima, dari agama monoteis kekerabatan itu kemudian tersusun menjadi agama monoteisme-monarkhial setelah pembentukan kerajaan di kemudian hari. Di Timur Tengah itu terjadi 310-332 sebelum Masehi. Di nusantara struktur agama monoteis-monarkhial itu terjadi saat kedatangan orang China dan makin kuat monoteis-monarkhial dalam masa kejayaan Hindu, Islam dan Kristen.

Keenam, agama monoteis-monarkhial baik Islam, Hindu, Kristen, Budha semua berwatak ekspansionis dan idelogis tertutup. "Inilah akal persoalan tidak diakuinya agama lokal kekerabatan,"ujar Julianus. Ia mengusulkan jika ada yang menginginkan agama lokal diakui keberadaanya, maka jalannya adalah meminta agama monoteis-monarkhial diinisiasi kembali ke dalam air atau roh agama monoteis nomaden. "Selama tak ada kerelaan diinisiasi kembali mala sulit terjadi kebijakan politik identitas yang negosiatif dalam hukum positif kita," ujarnya.

Ketujuh, baik agama monoteis kekerabatan maupun monoteis-monarkhial semua memiliki mitos, ritual dan etika. "Sebaikanya semua agama dihargai sebagai agama yang sah seperti diakui dengan jelas dalam UUD 1945 tentang agama dan kepercayaan," terangnya.
Penulis: Ulin Yusron

Faithfreedom Indonesia
Faithfreedom forum static

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: