Ancaman Mati dan Rasa Takut Merupakan Pusat Kehidupan Umat Islam

Ancaman Mati dan Rasa Takut Merupakan Pusat Kehidupan Umat Islam

Hal yang paling dikhawatirkan bagi warga Muslim yang hidup di negara Islam adalah tetap selamat, tetap hidup, dan tidak dituduh menghujat ajaran Islam.

Oleh: Nonie Darwish
February 5th, 2013

Image
Yusuf al-Qaradawi, ketua Muslim Brotherhood, berkata di TV Mesir, “Jika saja Muslim menghapuskan hukuman mati bagi yang murtad, maka Islam sudah tidak ada lagi hari ini.”

Ketua Sunni yang paling berpengaruh di Timur Tengah baru saja mengakui tentang hal yang sudah tidak asing lagi bagi kaum Muslim yang hidup di Timur Tengah: Islam tidak akan bisa ada hari ini tanpa pembunuhan bagi murtadun.

Yusuf al-Qaradawi, ketua Muslim Broterhdood dan salah satu pemimpin Islam Sunni yang paling dihormati di dunia, baru² ini berkata di siaran TV Mesir, “Jika saja Muslim menghapuskan hukuman mati bagi yang murtad, maka Islam sudah tidak ada lagi hari ini.”

Yang paling mengejutkan adalah bahwa dia bukannya merasa malu dengan pernyataan seperti itu; tapi menanggapnya sebagai tindakan yang logis dan patut dibanggakan karena menjaga keutuhan hukuman mati Islamiah bagi murtadun. Al-Qaradawi menyatakan ini apa adanya, tanpa konflik moral apapun, tak ada keraguan sama sekali tentang hukum Islam ini. Dia menegaskan penerapan hukum Islam bertumpu pada sikap pengawasan di tengah masyarakat melalui rasa takut, ancaman, siksaan dan pembunuhan terhadap siapapun yang berani meninggalkan Islam.

Banyak pengritik Islam yang setuju dengan Syeikh Qaradawi, bahwa Islam tidak akan bisa terus langgeng setelah Muhammad mati, dan hanya melalui pembunuhan, siksaan, pemancungan, dan pembakaran hidup² ribuan Muslim murtad saja Islam bisa terus ada – semua penindasan terhadap murtadun ini merupakan peringatan bagi Mulsim yang mencoba meninggalkan Islam. Dari sejak awal jaman Islam sampai hari ini, masyarakat Muslim tidak menganggap hukum mati murtadun ini sebagai hukuman yang tak layak, apalagi tak bermoral. Dari pemungutan pendapat baru² ini, 84% masyarakat Mesir setuju akan pelaksanaan hukuman mati bagi murtadun; dan kita lihat juga bahwa tak ada gerakan Muslim moderat yang menentang hukuman ini. Satu milyar Muslim di seluruh dunia tampaknya tenang² saja dengan hukuman yang benar² menunjukkan wajah asli Islam.

Tidak seperti kebanyakan orang Amerika yang paham akan prinsip² dasar UUD mereka, kebanyakan Muslim tidak tahu apapun tentang dasar hukum agamanya. Kebanyakan Muslim bersikap masa **** tentang Islam, dan menolak mengomentari karena takut dituduh menghujat atau murtad. Orang² Barat menjunjung tinggi sikap mempertanyakan suatu kepercayaan, sedangkan di dunia Muslim, sikap seperti itu malah dijatuhi hukuman mati. Sikap berani bertanya di masyarakat Barat merupakan tindakan kriminal dalam Syariah Islam.

Hal yang paling dikhawatirkan bagi warga Muslim yang hidup di negara Islam adalah tetap selamat, tetap hidup, dan tidak dituduh menghujat ajaran Islam. Dalam lingkungan yang sarat ketakutan dan penuh curiga seperti ini, penindasan tidak hanya datang dari pihak Pemerintah Islam, tapi juga dari teman², tetangga, dan bahkan anggota² keluarga, yang tidak akan dihukum jika mereka membunuh orang² yang dianggap murtad.

Bukanlah suatu kebetulan bahwasanya negara² Muslim punya angka buta huruf yang paling tinggi dan mereka juga tidak berpendidikan: dalam budaya Islam yang tak hanya mengancam bunuh murtadun, tapi juga mempertanyakan atau meragukan Islam, maka kebodohan merupakan keuntungan yang bisa melindungi nyawa.

Budaya Islam dan Yudeo-Kristen merupakan dua budaya yang saling bertentangan dalam hal sistem nilai dan arah moral – inilah inti perbedaan utama dalam moralitas Islam dan Barat. Tiada agama apapun di dunia ini, selain Islam, yang membunuh umatnya yang murtad – ini menunjukkan pemimpin Islam rupanya tak punya rasa percaya diri pada kemampuan Islam untuk terus langgeng diantara agama² lain yang tak membunuh pengikutnya yang meninggalkannya.

Di siaran TV Mesir lainnya, yakni channel “Al-Tahrir”, dalam sebuah diskusi tentang literatur Islam dari Al-Azhar – yang merupakan universitas Islam di Kairo yang terkemuka di dunia Islam – para mahasiswa diajarkan bahwa “Muslim manapun, tanpa ijin dari penguasa, boleh membunuh dan membakar hidup² seorang murtadin dan memakannya.” Ajaran seperti ini tercantum di buku² SMA yang dikeluarkan Pemerintah Mesir. Tamu yang diundang dalam diskusi TV itu sangat kaget bahwa murid² Islam Mesir diajarkan kanibalisme terhadap murtadun itu adalah halal (diijinkan Allah).

Ajaran seperti ini tentunya akan jadi masalah besar di negara Barat. Tapi sayangnya, pemerintah² Barat tampaknya memilih untuk tak mengakui fakta ini. Mereka enggan untuk tampak khawatir secara terang²an; dan jika ada warga Barat yang mengemukakan kekhawatiran akan hal ini, maka orang itu ditekan. Warga seperti ini dituntut ke pengadilan sued [Geert Wilders, Lars Hedegard, Elisabeth Sabaditsch-Wolff, Mark Steyn, Ezra Levant]; diserang [Kurt Westergaard di Denmark, Lars Vilks di Swedia, koran mingguan Charlie Hedbo di Perancis]; diancama deportasi [Imran Firasat, dari Spanyol ke Pakistan, dan Reza Jabbari dari Swedia ke Iran, dan sudah tentu keduanya akan dipenjara dan dihukum mati]; diancam mati [Salman Rushdie, Geert Wilders, Ayaan Hirsi Ali, Wafa Sultan, M. Zuhdi Jasser], dan kadangkala berhasil dibunuh [Theo van Gogh].

Bukannya sadar akan ancaman Islam, pihak Barat malah menjadi kebal rasa terhadap semua video² pembunuhan yang terjadi di dunia Muslim. Tiada sikap murka dari pihak pemerintah² Barat, media, NGO Barat tatkala mendengar berita² pembunuhan sehari-hari di Timur Tengah: foto² ratusan orang Kristen dibakar hidup² oleh Muslim di Nigeria; video² pemenggalan dan bakar hidup² murtadun bisa dilihat di seluruh internet; atau khotbah² Islamiah – dari para pemimpin politik, tv Arab, imam mesjid – yang beranggapan bahwa orang² Yahudi merupakan keturunan babi dan monyet.

Jika kita mau mempertahankan kemerdekaan Barat bagi generasi selanjutnya, sekaranglah waktunya untuk bersikap peduli dan mengamati akar permasalahan pandangan² Islamiah tersebut.

Pihak Barat sudah menghabiskan banyak waktu, usaha, dan uang untuk mencoba memahami Islam, tapi tetap tak mengerti juga. Mereka sebenarnya dengan mudah bisa mengerti Islam jika mereka mau mendengar apa yang dikatakan para pemimpin Muslim tersebut. Prioritas kebijaksanaan politik luar negeri Amerika seharusnya tidak menekankan usaha berdamai dengan budaya dan ideologi Islam, tapi usaha untuk melindungi masyarakat dan pemerintahannya dari ideologi Islam yang bejad moral dan tiranikal.

Faithfreedom Indonesia
Faithfreedom forum static

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: