Mustofa B Nahrawardaya: TAKBIR = TERORIS !!

Pakai Takbir Segala, Saya Kira Dia Teroris (Penusukan Membabi Buta di Depan Saya)
REP | 14 December 2011 | 22:37 Dibaca: 467 Komentar: 6 Nihil

Image

MALAM itu, Senin (12/12) saya ada 3 agenda bersamaan waktunya. Agenda pertama, ikut Raker Komisi VI DPR dengan Kementrian BUMN di Senayan. Agenda kedua, menghadiri peluncuran buku Pak Wakil Gubernur Prijanto di Hotel Borobudur Jakarta–kebetulan saya menulis catatan pendek atau semacam resensi buku beliau, dan agenda ketiga adalah LIVE di TV One pukul 19.30 soal Penangkapan Nunun. Semua agenda, kebetulan dimulai pukul 19.30. Karena waktunya bersamaan, tentu saya harus memilih salahsatu untuk memulai.

Maka, malam itu saya putuskan untuk ke Wisma Nusantara terlebih dahulu untuk menjadi salahsatu narasumber dialog di Apa Kabar Indonesia Malam. Sebelum berangkat, saya mendengar dari Radio Elshinta, bahwa jalanan Jakarta macet akibat hujan, sehingga saya memang sengaja lebih awal berangkat dari rumah. Karena macet itulah, saat sampai di lokasi saya masih sendirian. Narasumber lain, diantaranya Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Achasnul Qosasih, dari Komisi Hukum Nasional Frans Hendra Winarta, dan Anggota Komisi III DPR RI Abu Bakar Al Habsyi, belum kelihatan.

Mbak Grace Natalie, saya lihat masih take camera di luar loby. Beberapa kamera dan lampu sorot, saya lihat masih sibuk mengambil gambar di dekat pintu masuk mobil yang dijaga beberapa petugas keamanan berseragam hitam-hitam.

Saya pun langsung menuju stage, menuunggu Grace. Sekitar pukul 19.45, Grace muncul dan mulai ngobrol dengan saya, sambil test headset mini mic clip-on microphone. Tak ada firasat apa-apa, tiba-tiba saya mendengar suara keras di belakang saya duduk. Kebetulan di belakang saya duduk adalah kaca tembus pandang, sehingga saya bisa melihat apa yang terjadi. Di balik kaca, saya lihat ada seseorang melempar sebuah tas warna gelap ke trotoar di balik kaca belakang saya duduk.

Lalu, saya dengar suara orang berteriak entah apa maksudnya. Sepertinya suara petugas keamanan dari luar kaca. Kemudian, saya sempat lihat seseorang berbaju hitam, tampak lari sambil menghunus pisau panjang. Memasuki pintu kaca 2 lapis di sebelah kanan saya duduk. Kejadian itu cepat sekali.

Beberapa penjaga metal detector yang ada di samping kanan saya, tampak menghalangi lelaki nekat itu, namun mereka kewalahan. Pelaku berhasil menembus lapis keamanan metal detector. Saya melihat ada salahsatu petugas menghajar dengan semacam balok atau pipa, namun pelaku berhasil menembus, dan mendekati kerumunan kru TV One yang sedang memegang peralatan kamera.

Saat yang mencekam tersebut saya lihat, dimana berkali-kali pelaku menusukkan pisau ke kerumunan kameramen. Kabarnya satu kameramen terluka. Lalu, saya mencoba lari ke arah pelaku, ingin mencoba hentikan aksi brutalnya. Sayang, pelaku sepertinya kalap. Secepat kilat, pelaku berhasil menikam satu satpam hingga terjatuh di sebelah grand piano yang ada di depan mesin ATM. Untunglah, ketika pelaku mau naik panggung mendekati saya dan Grace Natalie, petugas keamanan berhasil meringkus dan menghajarnya hingga berdarah. Kami selamat.

Yang mengkhawatirkan, berkali-kali pelaku menghunus pisau, dan meneriakkan takbir. Saya semula menduga pria ini mungkin teroris yang tidak suka acara di Wisma Nusantara. Saya sempat melihat sorot matanya yang kosong saat mengayun-ayunkan pisau, sepertinya dia beraksi tanpa sadar, atau setidaknya bukan atas kehendak kesadarannya. Karena itulah, saya secepatnya berteriak kepada semua orang agar menjauhi tas yang ditinggalkan pelaku. Dalam kondisi seperti itu, bisa saja tas nya berisi bahan peledak atau setidaknya barang yang berbahaya jika dibuka.

Beberapa kru mencoba bertanya pada lelaki yang malang ini. Dari mulutnya yang kacau, dia kabarnya mengaku jengkel dengan TV One yang menggunakan angka 1 pada logonya, yang dianggap menyamai Tuhan. Dari pengakuannya tersebut, sempat beredar kabar akan adanya kemungkinan pelaku berasal dari kelompok radikal tertentu. Saya bahkan dapat SMS dan pesan BBM dari beberapa kawan di sana, bahwa kemungkinan pelaku adalah anggota atau golongan garis keras. Saya sempat khawatir juga.

“Saya pernah dengar ada pengajian yang menganggap kami toghut,”bunyi salahsatu BBM.

Namun, syukurlah, ternyata dari laporan wartawan TV One yang menghubungi dan menkroscek keluarga pelaku di Cilacap, didapat informasi mencengangkan.

Ibu pelaku yang ditemui TV One di sana, mengaku bahwa anaknya memang sedang menjalani perawatan kesehatan jiwa di Jakarta. Adil Firmansyah (27), nama pelaku, memang sejak lama menggemari Grace. Maka dari itu, jika ada Grace di layar kaca, maka Adil dengan semangat memotretnya untuk dikoleksi.

Dari informasi yang saya dapat, di tas Adil Firmansyah memang diketemukan alamat TV One dan nama Grace. Itu artinya, meskipun yang bersangkutan dalam kondisi tergoncang jiwanya, namun masih bisa berpikir sehat saat ingin menemukan tokoh kesukaannya: Grace Natalie.

Kenapa pakai pisau?

Dari polisi pula, saya dapat informasi, kemungkinan Adil sudah mempersiapkan pisau, untuk menghalau kemungkinan ada penghalang dirinya jika ingin ketemu Grace. Saat kejadian, karena dilihat di lokasi syuting banyak orang, maka merekalah yang menjadi sasaran.

Saya sendiri Alhamdulillah selamat, dan malam itu dialog tetap diteruskan bersama seluruh narasumber lain yang lengkap hadir usai peristiwa menegangkan berlangsung. Untunglah, dugaan saya meleset. Dia ternyata bukan teroris. Saya salah duga.

Usai dari TV One, saya sempatkan ke Hotel Borobudur dan bertemu Pak Wagub. Setelah itu, saya ke Senayan. Sayangnya, sudah terlalu malam. Jadi, saya putuskan untuk pulang saja. Sesampai di rumah sudah pukul 24.00, saya tak bisa tidur sampai subuh. Pasalnya, akun twitter saya penuh pertanyaan dan harus saya jawab. (mustofa b. nahrawardaya/@MustofaNahra).#

sumber

1. Yang mengkhawatirkan, berkali-kali pelaku menghunus pisau, dan meneriakkan takbir. Saya semula menduga pria ini mungkin teroris yang tidak suka acara di Wisma Nusantara.

teriakan takbir = Teroris !!! =D>

2. Lalu, saya mencoba lari ke arah pelaku, ingin mencoba hentikan aksi brutalnya. Sayang, pelaku sepertinya kalap. Secepat kilat, pelaku berhasil menikam satu satpam hingga terjatuh di sebelah grand piano yang ada di depan mesin ATM. Untunglah, ketika pelaku mau naik panggung mendekati saya dan Grace Natalie,

mencoba lari ke pelaku, tapi kemudian pelaku mendekati saya dan Grace ??!! :-k
mana yang benar ?? mencoba lari ke pelaku atau tidak ?? [-X
kalau mencoba lari ke pelaku, kenapa masih disamping Grace ?? ](*,)

Faithfreedom Indonesia
Faithfreedom forum static

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: