“Munafikun” menurut Qur’an

Pembahasan

Kata “orang munafik” dalam Qur’an merupakan kode rahasia dan berlaku sama bagi Muslim dan non-Muslim.
Kata ini merupakan kode rahasia karena maknanya bisa berarti orang yang murtad atau meninggalkan Islam [lihat 1f) di atas]. Pengetahuan bahwa orang² murtad merupakan bagian dari kelompok orang² munafik merupakan hal yang penting karena para pembela Islam seringkali mengatakan bahwa Qur’an tidak menyebut apapun tentang murtadun. Secara linguistik hal ini bisa dianggap benar: kata “murtadun” memang tak ada dalam Qur’an, tapi karena kata “orang² munafik” merupakan kode rahasia yang juga bermakna orang² murtad, maka itu berarti Qur’an membahas tentang murtadun, dengan menggolongkan mereka dalam kelompok Muslim “munafik” – yang harus dilakukan adalah menelaah kapan dan bagaimana saatnya menggunakan penggolongan itu secara relevan.

Semua Muslim yang tidak hidup sempurna dalam menjalankan Islam juga dianggap sebagai munafik (kecuali dalam keadaan darurat {12} atau Maruna {13}. Q 66:9 berkenaan tentang hal ini. Bahkan orang yang jadi mualaf (masuk Islam) karena takut kehilangan nyawa juga dianggap sebagai Muslim munafik karena dia bukanlah Muslim yang beriman penuh {6}.

Yang mengejutkan adalah orang yang disogok untuk masuk Islam {9} juga dianggap sebagai orang munafik, karena tidak beriman penuh pada Islam – hal ini menimbulkan pertanyaan “Apa yang kau harapkan, Muhammad? Ketulusan hati dari orang yang kau sogok untuk memeluk Islam?”

Kategori lain yang penting tentang Muslim “munafik” adalah Muslim yang tak mau menerapkan hukum Syariah (lengkap dengan segala aturan barbarnya) sepenuhnya – dan Syariah tak hanya harus diterapkan diantara masyarakat Muslim saja, tapi juga bagi semua orang.

Muslim² yang berteman baik dengan non-Muslim juga dianggap sebagai munafik, dan Muslim hanya boleh bersahabat dengan sesama Muslim dan tidak boleh membela non-Muslim jika ada pertikaian dengan Muslim. Akibat dari aturan ini, Muslim harus memberi naungan dan dukungan (meskipun diam²) pada para Muslim yang melakukan kegiatan teror atau berkhotbah pesan teror Islamiah {14}.

Ironisnya, Qur’an juga menyebut bahwa Muslim “Quranit” {15} juga munafik, sama seperti Muslim Reformis {16} (misalnya Islam Liberal). Muslim² yang moderat (cinta damai) juga daianggap sebagai munafik karena tak mau membunuh atau berjihad melawan non-Muslim. Jadi definisi “orang² munafik” berlaku bagi para Muslim yang mencoba mereformasi Islam: usaha seperti ini dianggap menentang pesan Muhammad.

Qur’an dan tafsirnya menjelaskan bahwa tekad Muslim untuk berjihad di jalan Allah dengan seluruh harta dan diri – termasuk menghadapi resiko kehilangan nyawa dan anggota tubuh {17} (Q 4:95, 9:20,88; 61:11) merupakan landasan utama untuk menjadi Muslim kafah [lihat 1j di atas]. Muslim yang tak mau melakukan ini dianggap berhati lemah atau tak beriman teguh – dan Qur’an menyebut mereka sebagai orang² yang jiwanya mengandung penyakit” ((fii quluubihim maradhun) atau orang² yang tak yakin akan ajaran Islam.

Kelompok Muslim terakhir yang dianggap sebagai munafik adalah Muslim² yang berkhianat. Mereka adalah orang² yang memeluk Islam untuk mengetahui kekuatan Islam dari dalam. Qur’an sangat mencela orang² seperti ini {18}.

Ketika berbicara tentang non-Muslim, Qur’an kurang lebih menyatakan bahwa SEMUA non-Muslim adalah munafik – setidaknya mereka yang telah mendengar pesan Islam. Anggapan ini berasal dari pikiran Muslim bahwa setiap orang yang mendengar {19} pesan Islam sudah tentu “tahu dalam hatinya” akan ‘kebenaran’ Islam. Dengan begitu, jika orang ini menolak Islam maka sudah tentu dia munafik karena menolak ‘kebenaran’. Hal ini tampak jelas saat Qur’an menyatakan non-Muslim sebagai kafir. Kafir berarti “orang yang menutupi kebenaran” dan kata ini sebenarnya berarti ‘menutupi dengan tanah setelah menanam benih’.

Sungguh ironis bahwasanya Qur’an menganggap non-Muslim yang bersikap baik terhadap Muslim karena rasa takut sebagai munafik juga. Hal ini ironis karena Qur’an sendiri menyuruh Muslim untuk melakukan hal yang persis sama pada non-Muslim jika mereka takut terhadap non-Muslim (Q 3:28)

Q3:28
Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu).
(syafa yang munafik nih??)

Bukhari juga mengajarkan Muslim untuk “tersenyum di wajah pada kafir padahal hatimu mengutuk mereka.” (lihat juga tafsir Ibnu Katsir akan Q 3:28).

Dua kelompok terakhir tentang non-Muslim munafik adalah mereka yang menolak berlakunya Syariah Islam terhadap mereka (meskipun jelas penolakan ini karena non-Muslim tahu Syariah bersikap sangat diskriminatif terhadap mereka) dan non-Muslim yang terang² mencoba “mencelakai Muslim”.

Di kasus terakhir tentang usaha “mencelakai Muslim”, orang bisa mengerti jika Muslim menganggap orang² subversif yang mencoba menggulingkan kekuasaan Islam sebagai orang²munafik. Akan tetapi tidak hanya itu saja pengertian akan ‘non-Muslim yang mencoba mencelakai Muslim’. Qur’an mengatakan semua non-Muslim benar² “tahu jika Islam itu benar”, dan dengan begitu “orang² yang mencoba mencelakai” bisa dianggap sebagai orang² non-Muslim yang berani mengatakan hal² yang dianggap menghina Islam (meskipun yang dikatakan benar!) karena hal ini dianggap mengganggu atau menggelisahkan atau menantang “kedamaian” spiritual umat Muslim.

Qur’an menjelaksan bahwa Muslim dan non-Muslim yang mementingkan diri sendiri sebagai orang² munafik. Meskipun tentunya sifat mementingkan diri sendiri (egois) adalah sifat yang amat jelek, tapi bahasa yang digunakan Qur’an mengundang kecurigaan. Mengapa orang² ini dianggap munafik? Kenapa tidak disebut sebagai egois saja? Satu²nya penjelasan yang bisa kusimpulkan adalah orang² munafik akan masuk neraka, dan Islam memasukkan semua orang yang tak setuju dengan Qur’an sebagai orang² munafik, sebagai cara mudah untuk mengatakan “lo semua bakal masuk neraka!”

Jenis munafik lain adalah orang² yang membuka rahasia tentang umat Muslim. Hal ini bisa dimengerti jika orang berdusta dan menyebar keterangan buruk tentang Muslim yang sebenarnya baik hati {20}. Akan tetapi makna selanjutnya adalah Muslim harus “menutupi” satu sama lain dengan cara menolak percaya bahwa umat Muslim yang merupakan “umat terbaik” dan “superior” bisa melakukan hal kriminal dan biadab. Hal ini merupakan sikap yang salah karena korban perlakukan biadab tidak bisa membela diri karena masyarakat Muslim di sekelilingnya tidak percaya keterangannya.

Seperti yang tertera di atas, Qur’an menjabarkan kata “orang² munafik” dalam berbagai jenis manusia, baik yang Muslim maupun non-Muslim, yang berbuat sesuatu – apapun jenisnya – yang bertentangan dengan ajaran Islam. Definisi paling tepat dari kata “orang² munafik” dalam Qur’an adalah “Muslim abal-abalan” (Muslim KTP).

Keterangan Qur’an juga menyatakan ada empat jenis hati:

• hati yang jernih seperti lampu menyala – ini adalah hati Muslim kaffah.
• hati yang tertutup dan terikat – ini adalah hat
i non-Muslim.
• hati yang jungkir balik – ini adalah hati murtadin.
• hati yang berbaju zirah – hati Muslim munafik yang bercampur iman dan kemunafikan.

Hati yang bersinar adalah hati Muslim yang terangnya mampu membimbing mereka melalui jalan sempit menuju surga. Yang lainnya (yang tak memiliki lampu terang itu) akan masuk neraka. Maka dari itu, penting bagi Muslim untuk jadi Muslim kaffah (Muslim yang senantiasa mengikuti Rasulullah dalam segala hal dalam kehidupannya).

Masalahnya sekarang adalah bagaimana menentukan seseorang itu Muslim kaffah atau bukan. Ini merupakan masalah besar dalam dunia Islam, dan tampak dengan kebiasaan berbagai group Muslim yang menuduh group Muslim lain sebagai kafir atau murtad dengan mengumumkan Takfir {22}. Akibatnya, setiap Muslim jadi berlomba-lomba ingin tampil sebagai kaffah untuk menghindari tekanan dalam masyarakat Muslim. Hal ini juga mendorong Muslim untuk memahami Qur’an secara semakin harafiah, agar dianggap sebagai Muslim sejati. Kecenderungan ini meningkatkan terjadinya radikalisasi Islam {23} di jaman sekarang di mana masing² kelompok Islam ingin tampak lebih Islamiah dibanding kelompok lain. Mereka berlomba-lomba menggali menujug kedalamanan tafsir Qur’an {24}.

Di negara² Mesir dan Tunisia yang sedang mengalami “Arab Spring” (kebangkitan bangsa Arab), pihak pemerintah Muslim moderat ditantang oleh Islamis radikal {25} Salafi. Jika pihak Muslim Salafi kelak berkuasa, maka akan ada lagi kelompok Islam radikal lain yang menantang kelompok Salafi. Dengan kata lain, tafsir Islam itu bagaikan boneka Rusia yang di dalam satu boneka terdapat bonek lain yang lebih radikal tafsirnya. (Analogi lain adalah sajak tentang kutu {23}.)

bersambung …

Faithfreedom Indonesia
Faithfreedom forum static

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: