Hapus Kolom Agama di KTP

Hapus Kolom Agama Pada KTP ? No way !
Posted by Adm-1

Penulis: Wage Rahardjo

Agama adalah hal pelik namun bagi sebagian orang berpendapat sebaliknya. Agama adalah urusan pribadi namun (sekali lagi) bagi sebagian orang, agama adalah wilayah publik yang harus diatur oleh negara, harus dicatat atau dicantumkan pada identitas resmi seperti contohnya KTP. Tidak ayal, pencantuman kolom agama pada identitas KTP ini menyisakan sejumlah perdebatan “kecil” di sejumlah tempat khususnya di dunia maya. Diskusi dengan topik “Menghapus kolom agama pada KTP” pun marak ditemukan.

Berikut saya ingin mencoba ikut (ikutan) berkomentar. Berhubung rada bingung untuk mengungkapkan (pendapat) maka terpaksa ditulis dalam bentuk fiksi saja, hitung hitung juga untuk memenuhi janji dari blog dongeng budaya yaitu satu tahun minimal harus terbit satu cerita fiksi.

……………………………………………………………………..

Di salah satu ruang istana, tampak terjadi percakapan yang sangat serius dan panas antara Raja Sangkuni dengan dua abdinya, Togog dan Semar. Kedua abdi itu sedang mengajukan usul tentang penghapusan kolom agama pada KTP.

Raja Sangkuni: “Kalian ini aneh aneh saja. Itu tidak mungkin ! Apakah kalian pura pura buta dengan sila pertama dari negara kita yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa? Apa kalian mau negeri Kurawa ini berganti menjadi negeri KOMUNIS ?”

Abdi Togog: “Paduka salah mengerti, kami sama sekali tidak mengusulkan agama dilarang di negeri ini, kami hanya ingin kolom agama ditiadakan. Ini adalah dua hal yang berbeda”.

Abdi Semar: “Padukua yang Mulia, menurut pendapat hamba, Ketuhanan artinya percaya dengan Tuhan, masyarakat yang berprilaku pengasih, penyayang dan ramah tamah. Kalau yang terjadi sekarang itu bukan Ketuhanan Yang Maha Esa tapi Keagamaan Yang Mahe Esa. Disadari atau tidak, selama ini agama telah membuat negeri ini menjadi terkotak kotak. Jadi mohon dipikirkan usul kami”.

Raja Sangkuni: “Oh, maksud sampean berdua, berTuhan tanpa berAgama? Itu lebih tidak masuk akal lagi! Nanti semua orang mengaku berTuhan dan tidak mau berAgama, itu malah repot !”

Semar: “Tapi Paduka, bukankah sekarang ini banyak orang yang mengaku berAgama tapi tidak berTuhan? Agama sering dijadikan pembenaran untuk melakukan tidak kekerasan. Korupsi dianggap boleh boleh saja asal rajin sembahyang. Ini sama dengan DAGELAN dan menjadi tertawaan dari negeri lain. Ini jelas jelas tidak sesuai dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa”. Pada jaman Belanda dulu, identitas agama sama sekali tidak dicatat dan semuanya baik baik saja. Kemudian perbandingan lain, di negeri Hanoman, negerinya para kera, pemerintahnya juga tidak pernah mencatat agama dan kepercayaan warganya. Mereka mengenal motto “In God we trust” jadi yang utama adalah GODnya bukan “In religion we trust,”.

”NO, NO, NO !” raja Sangkuni memotong dengan cepat penjelasan tambahan dari Togog. Entah kenapa sang raja tiba tiba ikut ikutan berbahasa Inggris, walau kata yang keluar cuma NO dalam jumlah berulang.

“Aku sama sekali tidak suka kalau negeri ini dibanding bandingkan. Masak sih Sampean membandingkan negeri Khayangan ini dengan negeri para Monkey? Lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, lain hutan lain SETAN-nya !” Kali ini raja Sangkuni bukan lagi berkata keras, tapi sudah benar benar berteriak !

Semua orang terdiam, hening. Sejumlah raksasa dan setan yang dari tadi mengintip di balik celah pintu-pun tampak kaget dan melongo karena tidak menyangka tiba tiba namanya ikut disebut sebut dan dikait kaitkan.

Hening. Setelah terdiam beberapa saat, tiba tiba raja Sangkuni berkata pelan : “Ssst, coba kalian datang lebih mendekat kesini !” Kedua abdi itupun beringsut duduk mendekat ke arah raja-nya. Para setan dan raksasa-pun ikut ikutan mendekat ingin tahu.

“Sebetulnya aku paham bahwa maksud kalian adalah baik. Tapi kalian juga harus paham bahwa negeri ini bukan lagi milik Embah-mu dan juga milik Embah-ku tapi juga milih Mbah orang atau golongan lain. Di satu sisi, memiliki banyak golongan itu bagus karena berarti memiliki banyak kepala untuk berpikir. Namun di sisi lain, banyak kepala berarti banyak masalah. Semua orang memiliki pendapat dan menganggap pendapatnyalah yang paling benar, harus didahulukan. Di negeri Kurawa ini menghargai perbedaan dan keberagaman itu sudah lama luntur. Susah khan?”

“Jadi kita tidak bisa lagi seenak jidat main ubah. Semuanya harus mengacu pada Undang undang dan Statua. Perlu membentuk panitia yang jumlahnya berjibut, rapat bertahun tahun, belum lagi harus study banding ke luar negeri. Ngabisin biaya saja yang akhirnya hasilnya bisa ditebak.”

“Menghilangkan kolom agama itu tidak mudah, resiko dan effeknya sangat besar. Demo menentang penghapusan kolom agama pada KTP dipastikan akan sangat sengit. Tahu sendirilah kalau demo di negeri kita itu seperti apa? Rusuh dan kagak ada manfaatnya. Yang untuk cuma para provokator lapangan dan pedagang nasi bungkus spesialis demo doang. Kalau kolom agama dihilangkan, nanti Departemen agama juga akan kehilangan fungsi. Itu artinya pengangguran. Orang yang hidup dan makan dari agama sudah terlalu banyak jadi untuk menghilangkannya jelas akan menimbulkan huru hara. Nanti kalau mereka nganggur karena kehilangan pekerjaan, siapa yang akan memberi mereka makan?

Mendengar penjelaan Raja Sangkuni yang panjang lebar, abdi Togog dan Semar cuma bisa mengurut dada. Akhirnya kedua abdi itu hanya bisa berguman : “Sepertinya negeri khayangan ini sedangkan krisis identitas dan mencoba berlindung dengan bersembunyi di balik identitas yang disebut agama. Apakah dengan adanya identitas tertulis maka prilaku menjadi labih baik? Jawabannya sepertinya semua orang sudah tahu. Identitas hanyalah catatan di atas kertas, yang tidak akan berubah menjadi beras, melainkan membuat prilaku menjadi keras. “.

end

http://dongengbudaya.wordpress.com/2013 … -pada-ktp/

Faithfreedom Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: