‘Prophet of Doom’ by Craig Winn (BELUM SELESAI)

Tidak ada keraguan ttg kelayakan menggunakan Bukhari sebagai sumber. Inilah yang dikatakan para ulama Islam di kata pengantar, “Hadist Al-Bukhari adalah kitab yang paling otentik dan benar mengenai Nabi.” Penerjemah mengatakan, “Saya sangat yakin bahwa terjemahannya, dengan pertolongan Allah dan dengan segala upaya besar yang terlibat dalam produksinya, mendekati kesempurnaan.” Para imam yang berasal dari tempat kelahiran Islam, Islamic University of Medina, Saudi Arabia, berkata, “Disepakati secara bulat karya Imam Bukhari adalah yang paling otentik dari semua sember-sumber dalam literatur hadist lain yang digabungkan. Kedudukannya kedua setelah Qur’an.”

Hal ini membuat kau dan aku berada di persimpangan takdir, Bila kita tidak mau berurusan dengan persoalan jihad Islami yang mengerikan ini, masa depan kita akan musnah di depan mata. Jika kita ingin menghindari jurang kelam perang dunia, maka kita harus mengekspose doktrin yang berkomitmen pada penaklukkan dunia ini. Kita harus membebaskan muslim dari Islam.

“Ekspedisi dipimpin oleh Hamzah” adalah Maghazi pertama. Hamza, si pemburu di Mekah, sekarang seorang ‘Mujahid’ (jamak: Mujahidun), ‘Pejuang jihad Islam.’ Tabari VII:10, “Di bulan Ramadhan, tujuh bulan setelah hijrah, Muhammad mempercayakan bendera perang putih pada Hamza dengan komando atas tiga puluh emigran. Tujuan mereka adalah mencegat kafilah-kafilah Quraysh.” Tujuh bulan setelah melarikan diri dari Mekah dengan membawa rasa malu, sang nabi pedofil menjelma menjadi perampok dan teroris.

Agar tak ada kesalahpahaman, mari definisikan karakter yang memalukan ini. Perampok: orang yg mengambil dengan paksa dan kekerasan barang milik orang. Teroris: orang yg menggunakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut, biasanya untuk tujuan politik.

Bendera yang diserahkan Muhammad pada Hamzah adalah spanduk perang. Salah satu simbol yang diwarisi Muhammad dari leluhurnya, Qusayy. Hamzah jadi jihadis. Ia memimpin pasukan tiga puluh orang. Tujuan mereka adalah mencegat kafilah, usaha dagang milik rakyat sipil. Muhammad telah menjanjikan pembantaian pada mereka karena telah memperoloknya. Walau kita diberitahu bahwa, “mereka berpisah tanpa terjadi pertempuran,” maksud utamanya jelas: hendak merampok dan meneror. Kegagalan tidak mengubah fakta telah menjadi manusia seperti apa mereka—apa yang telah Islam lakukan pada mereka.

Di titik karirnya sebagai seorang pengeruk keuntungan ini, masih cukup terdapat orang yang punya nurani (kaum Ansar) dibanding yang tidak (muslim Mekah), dan ia belum trampil sebagai perampok setrampil jadi nabi palsu.

Kembali ke penulis biografi Muhammad, kita belajar banyak mengenai pola pikir muslim pertama. Ishaq:283, “Ekspedisi Hamza ke pantai terdiri dari 30 pengendara, semuanya imigran dari Mekah. Ia bertemu Abu Jahl yang memiliki 300 pengendara. Amr, yang dalam posisi damai dengan kedua belah pihak, menjadi penengah. Hazma [penunggang Muhammad] berkata, demikian mereka katakan ‘Mengingat akal sehat dan kebodohan, ketiadaan nasihat dan saran. Orang-orang dan harta benda mereka belum dilanggar karena kami belum menyerang. Kami menyeru mereka ke Islam [menyerah] tapi mereka menganggapnya suatu lelucon. Mereka tertawa sampai aku mengancam mereka. Atas perintah rasul, aku yang pertama berbaris di bawah benderanya, spanduk kemenangan dari Allah. Bahkan saat mereka menodai kemudian membakarnya dengan marah, Allah menggagalkan rencana mereka.”

Abu Jahl, seorang pengusaha pagan, berkata pada para muslim militan tersebut, Ishaq:284, “Aku takjub akan penyebab kemarahan dan kebodohan, serta pada mereka yang membangkitkan perselisihan dengan mengadu domba. Mereka mengabaikan cara-cara yang ditempuh leluhur kita. Mereka berdusta untuk memperalat pikiran kita. Namun kebohongan mereka tidak dapat mengacaukan yang bijaksana. Jika kalian menghentikan serangan kalian, kami akan menerima kalian kembali, karena kalian adalah sepupu kami, kerabat kami.’ Namun mereka memilih untuk mempercayai Muhammad dan berdebat dengan keras kepala. Semua perbuatan mereka menjadi jahat.” Sebagaimana biasa, penduduk Mekah memahami Islam.

Ibn Ishaq percaya: Ishaq:281, “Serangan di Waddan adalah Maghazi pertama.” Ia berkata, “Ekspedisi Ubayda Harith adalah yang kedua, Rasul mengirim Ubayda pergi menyerang dengan 60 atau 80 pengendara dari kaum imigran, tak ada satupun kaum Ansar diantara mereka. Mereka berhadapan dengan sejumlah besar Quraysh di Hijaz. Abu Bakr menyusun puisi mengenai serangan tsb.” Beberapa baris paling dikenal diantaranya: “Ketika kami menyerukan mereka pada kebenaran, mereka berpaling dan berseru seperti hewan. Hukuman Allah pada mereka akan tiba. Aku bersumpah demi Tuhan Unta-unta [Allah?] bahwa aku tidak bersumpah palsu. Gerombolan pemberani akan menyerang kaum Quraysh, menyebabkan para perempuan menjadi janda. Menyebabkan kematian para laki-laki, dengan burung nasar terbang berputar. Tidak memberi ampun pada kafir.” Yang kemudian dijawab pagan bernama Abdullah (budak Allah), Ishaq:282, “Apakah matamu tiada henti mengucurkan airmata di atas reruntuhan kediaman [Rumah Allah] sehingga pasir bergerak tak jelas? Apakah pasukan dan pernyataan perang kalian cukup kuat sehingga kami harus menolak sosok yang kami muliakan di Mekah, yang diwariskan oleh leluhur terhormat [Qusayy]? Apakah tunggangan kalian terengah di tengah keributan, apakah pedang kalian diasah, berada di tangan para prajurit, berbahaya seperti singa, ataukah kalian berlaku congkak? Apakah kalian disini untuk memuaskan dahaga kalian akan balas dendam? Sesungguhnya, mereka mundur dalam ketakutan besar dan kekaguman.”

Mengenai serangan tsb, sejarawan melaporkan, Tabari VII:10, “Delapan bulan setelah hijrah , rasul Allah mempercayakan bendera perang putih pada Ubaydah dan memerintahkannya untuk berbaris ke Batn Rabigh. Ia tiba di lintasan Marah, dekat Juhfah, memimpin 60 imigran tanpa satupun dari kaum Ansar (muslim Medinah) diantaranya. Mereka bertemu kaum kafir di sumber air yang disebut Ahya. Mereka melepaskan anak panah satu sama lain tapi tidak bertempur berhadapan langsung.”

Sang nabi sekarang menjadi penjahat kambuhan. Delapan bul
an memasuki era Islam, ia telah memerintahkan berbagai serangan. Apologis Islam menyatakan bahwa Muhammad terpaksa membela Islamm dan bahwa ia bukanlah agresor, perampok atau teroris. Namun pernyataan itu tak bisa dipertahankan. Tidak ada catatan sejarah mengenai Muhammad—dari jalur catatan sejarah independen. Semua yang diketahui mengenai dia berasal dari hadist. Jika hadist mengatakan ia menyerang kafilah-kafilah dagang penduduk sipil dan selanjutnya memerintah orang-orangnya pergi menyerang kota lain, memang itulah yang terjadi. Ia adalah seorang agresor. Tradisi-tradisi tidak memperlihatkan Muhammad membela diri, juga tidak berusaha menyingkirkan motif sang nabi sesungguhnya: mengejar uang dan harta jarahan, bukan menyebarkan ajaran baik.

Kau mungkin bertanya-tanya mengapa tak satupun kaum Ansar bergabung dengan imigran Islam dari Mekah di semua penyerangan ini. Aku yakin jawabannya karena mereka belum cukup lama menjadi pengikut Islam, dan masih bisa membedakan antara benar dan salah. Islam telah merusak muslim Mekah ke titik dimana mereka beranggapan merampok dan meneror dapat dibenarkan, bahkan dihargai. Mengingatkan kita pada para teroris Islam modern.

Ishaq: 285, “Selanjutnya rasul pergi melakukan penjarahan di bulan Rabi u’l-Awwal terhadap Quraysh. Ia kembali ke Medinah tanpa pertempuran. Kemudian ia menyerang Quraysh dijalan menuju Dinar.” Tabari VII:11. “Di tahun ini, rasul mempercayakan pada Sa’d bendera peerang putih untuk expedisi Kharrar. Sa’d berkata, ‘Aku pergi berjalan kaki memimpin dua puluh orang. Kami biasa bersembunyi saat siang hari dan bergerak di malam hari, sampai kami mencapai Kharrar di pagi hari kelima. Kafilah-kafilah telah tiba di kota sehari sebelumnya. Ada 60 orang di dalamnya. Mereka yang bersama Sa’d semuanya imigran.” Muhammad sekarang menjadi penjahat kambuhan yang melakukan perampokan dan teror, walau perampok gagal.

Tabari VII: 11, “Rasul Allah pergi melakukan serangan penjarahan sejauh Waddan, mencari orang Quraysh. Di saat itulah, Bani Damrah membuat perjanjian damai dengannya. Kemudian Muhammad kembali ke Medinah tanpa pertempuran dan tetap disana sepanjang sisa bulan.” Kali ini Muhammad sendiri yang memegang komando, mengungkap keinginan jelasnya untuk menemukan Quraysh dan merampok mereka. Walau dengan melakukan perjanjian ia tampak terhormat, tetap ini merupakan sesuatu yang salah untuk dilakukan seorang nabi. Perjanjian bersifat politik, bukan relijius. Muhammad sekarang dianggap sebgai ‘Kepala geng sahabat’ yang mengomandani sekelompok orang bersenjata—sama sekali tidak tampak sebagai nabi. Lagipula qur’an berkata bahwa perjanjian dengan orang kafir tidak mengikat orang Islam. Aliansi ini dengan orang-orang kafir.

Tabari VII: 12, “Selama ini ia mengirim Ubaydah mengepalai 60 penungggang berkuda dari para imigran tanpa satupun kaum Ansar diantara mereka. Ia sampai hingga tempat mata air Hijaz [Arab Tengah], di bawah lintasan ke Marah. Disana mereka berjumpa sekelompok besar Quraysh, tapi tidak terjadi pertempuran kecuali Sa’d melepas sebuah anak panah. Kemudia kedua kelompok berpisah satu sama lain, kelompok Islam membuat barisan penjagaan belakang.” Perampok Islam Islam pergi dengan maksud menjarah dan membunuh. Satu-satunya hal yang mencegah mereka meraih keinginan mereka adalah melihat kekuatan lawan yang lebih superior. Hal ini harus kita ingat dikala kita mempertahankan diri saat ini.

Tabari VII: 13, “Muhammad memimpin ekspedisi di [bulan] Rabi al-Akhir, mencari Quraysh. Ia pergi sejauh Buwat, di wilayah Radwa dan kembali tanpa pertempuran apapun. Kemudian ia memimpin ekspedisi lain yang mencari penduduk Mekah. Ia mengambil jalur perbukitan dan menyeberang padang pasir, berhenti di bawah sebuah pohon di Batha. Ia berdoa [Apa sih yang dia doakan?: "Ya Allah, tolonglah aku merampok dan membunuh orang. Terima kasih. Amin."] Setelah beberapa hari Nabi pergi mengejar kaum Kutz."

Era Islam baru berlangsung satu tahun, namun umat Islam telah berkomitmen penuh, mengabdikan hidup di jalan perampokan dan teror. Lupakan sejenak kalau ini seharusnya suatu agama. Tidak terdapat sesuatu yang bersifat mulia, bermoral, atau keselamatan dari dosa terkait gerombolan perampok yang berniat menjarah kafilah penduduk, ataupun ekspedisi untuk menteror para penghuni warga perkampungan yang dicurigai. Sama seperti tidak adanya surah terkait penebusan dari dosa di Mekah, di Medinah juga tidak terdapat perilaku kebaikan.

[center]Image[/center]

Faithfreedom Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: