Penghayat Agama Leluhur danamp; Kepercayaan masih alami diskrimina

http://www.vhrmedia.com/new/berita_detail.php?id=988

Hak Penghayat Kepercayaan Terabaikan
"Konstitusi menjamin hak penghayat kepercayaan, namun masih banyak dilanggar. Dianggap sebagai warga kelas dua."

Priyatno / VHRmedia
Rabu, 16 Januari 2013

VHRmedia, Jakarta – Perlindungan terhadap penghayat kepercayaan Ketuhanan Yang Maha Esa belum berjalan baik. Kerap terjadi kasus penghayat kepercayaan dianggap sebagai warga kelas dua. Itu menunjukkan hak konstitusi penghayat kepercayaan masih terabaikan.

Kenyataan itu diakui Direktur Jenderal Kesatuan Bangsa dan Politik Kementerian Dalam Negeri, Tanribali Lamo. “ Ada kasus mereka yang meninggal ditolak saat mau dimakamkan di pemakaman umum. Hal itu menunjukkan memang perlindungan dan penghormatan kepada para penghayat kepercayaan pada Ketuhanan Yang Maha Esa belum begitu baik,” kata Tanri di Jakarta, Selasa (15/1).

Hal itu, kata Tanri, tak boleh lagi terjadi. Sebab, penghayat kepercayaan juga dijamin eksistensi dan aktivitasnya oleh konstitusi. Pemerintah perlu melakukan langkah-langkah konkret untuk memberikan perlindungan yang setara kepada para penghayat kepercayaan. “Oleh karena itu dikeluarkanlah Peraturan Bersama Menteri antara Mendagri dan Menbudpar, yakni PBM Nomor 40, 41, 42, dan 43 tahun 2009.”

Regulasi tersebut diharapkan semakin menjamin hak konstitusi para penghayat dalam menjalankan kepercayaannya, terutama di daerah-daerah. “Jadi, bagaimana para penghayat dilindungi, dalam melakukan penghayatannya, objek gedungnya, dan dalam menjalankan tata cara silahturahminya,” kata Tantri.

Sehingga tak ada lagi penghayat yang dianggap sebagai warga nomor dua. Pada pemerintah daerah, terutama instansi yang memang terkait dengan urusan itu, harus mengetahui seberapa banyak jumlah para penghayat dan apa nama organisasinya.
“ Ini penting untuk melakukan perlindungan pada mereka. Jangan lagi mereka selalu didiamkan kalau diabaikan haknya. Mereka juga dijamin konstitusi. Karena harus diakui, perlindungan dan pengayoman pada mereka belum berjalan baik,” kata Tanribali Lamo. (E4)

Faithfreedom Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: