Penutupan rumah ibadah di Aceh

Sebagian umat Kristen di Aceh tak bisa gelar misa di gereja
Tuesday, 08 January 2013 14:44
Para jemaat dari sembilan gereja di Kota Banda Aceh tersebut menggelar misa di lokasi terpisah secara tertutup.

Seperti Gereja Bethel Indonesia yang berencana melakukan misa dan perayaan natal secara sederhana di salah satu rumah makan di ibukota provinsi Aceh.
Kebebasan beragama

Pendeta Nico Tarigan dari Gereja Bethel Indonesia mengatakan misa dan perayaan Natal terpaksa dilakukan tertutup karena khawatir adanya ancaman pembubaran dari pihak tertentu.

"Kami sudah dapat tempatnya dan besok kita akan mengadakan ibadah Natal pada pukul 9, di sebuah restoran, kalo tahun sebelumnya bisa lebih meriah ya kita ga punya rasa takut atau khawatir untuk mengadakan ibadah, apalagi Natal kan umum dimana-mana orang merayakan Natal," kata Nico.

Menurut Nico, perayaan Natal ini berbeda dengan tahun lalu.

"Tahun ini sifatnya lebih mencekam begitu takut juga sih, tiba-tiba nanti ada orang atau apa gitu," tambah Nico.

Sementara itu untuk ibadah mingguan dilakukan di rumah-rumah jemaat Gereja Bethel secara bergantian.

Pertengahan Oktober lalu, pemerintah Kota Banda Aceh menutup dan menghentikan kegiatan keagamaan di sembilan gereja dan enam Vihara Budha dengan alasan tidak memiliki ijin.

Lembaga pemerhati masalah HAM Setara Institut menyebutkan kasus penutupan rumah ibadah di Aceh banyak terjadi selama tahun 2012, padahal sebelumnya tidak pernah terjadi kasus semacam itu selamalimatahun terakhir.

Aceh termasuk provinsi yang menurut Setara memiliki tingkat pelanggaran kebebasan beragama tertinggi dengan 36 peristiwa, setelah Jawa Barat, Jawa Timur, kemudian Jawa tengah dan Sulawesi Selatan.

Dari hasil pantauan selama 2012, Setara mencatat terjadi 264 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama dan 371 merupakan bentuk tindakan yang menghambat kebebasan beragama.

Peneliti Setara Ismail Hasani mengatakan kondisi pelarangan ibadah di berbagai wilayah diIndonesiatak banyak berubah karena pemerintah pusat tidak melakukan upaya pencegahan.

"Pembiaran yang dilakukan oleh kepala negara disituasi semacam ini membuat pemda-pemda menjadi amat liar tidak memiliki pedoman yang sama dalam mengatasi situasi semacam ini, sepeti kita lihat di Aceh dan di wilayah lain, kepala daerah memainkan isu ini dikonteks lokal," jelas Ismail.

Untuk pengamanan misa Natal, pemeriksaan dilakukan di gereja-gereja yang ada diJakartadan sejumlah daerah, yang melibatkan personil penjinak bom Gegana, mulai Senin (24/12) pagi.

Kepolisian Indonesia menerjunkan lebih dari 82 ribu personil di 3.000 pos untuk pengamanan Natal dan Tahun Baru. [BBC/afer]

Semua daerah propinsi yang disebutkan adalah kantong mouse-lem, mari doakan…

Faithfreedom Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: