Yogyakarta : Fanatisme Keagamaan Ancam Budaya Yogya

Fanatisme Keagamaan Ancam Budaya Yogya
Kamis, 27 Desember 2012 | 18:58 WIB

Demo radikalisme agama makin marak di Yogya. Foto: Doc

YOGYA (KRjogja.com) – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta menggelar ‘Gathering Budaya’ 2012 di Pendopo Gamelan Yogyakarta. Pertemuan digelar untuk membahas permasalahan yang dihadapi Yogya, terutama dari sisi budaya, dengan menghadirkan budayawan Indra Tranggono sebagai narasumber. Dari hasil diskusi dengan berbagai pihak, terungkap bahwa fanatisme dan radikalisme agama adalah salah satu hal yang saat ini mengancam budaya Yogya.

Beberapa tokoh masyarakat yang hadir menyesalkan adanya perilaku warga Yogya yang kini kian mengesampingkan karakter Yogya yang toleran dan menjunjung tinggi budaya. Misalnya, kian banyak PNS dalam upacara menggunakan adat Jawa di Pemkot Yogya yang tidak menggunakan sanggul. Selain itu, kini adanya pembagian kantin muslim-non musilm, maupun WC muslim-non muslim yang dirasa sangat tidak pas dengan kultur Yogya.

Indra Tranggono dalam kesempatan ini menyampaikan, nilai yang menjadi orientasi utama Yogya yang harus senantiasa dipertahankan adalah ‘memayu hayuning bawana’, yang menjadi intisari keistimewaan Yogya. Selain terdapat pendukung fisik dan geografis, terdapat mitos-mitos, perilaku dan aktivitas warga yang .

“Yogya itu bersifat terbuka dan ramah, toleran, menghargai pluralisme dan multikulturalisme. Jadi kalau ada orang Yogya tidak toleran itu aneh,” ujarnya, Kamis (27/12) sore.

Ia mengakui, salah satu tantangan yang dihadapi budaya Yogya adalah adanya sikap eksklusif, yang mendorong munculnya kebudayaan yang homogen. Primordialisme budaya dan radikalisme agama adalah salah satu pemicu utamanya.

“Yogyakarta itu komunal, bukan individual. Produktif, dan penuh kreasi. Basis kebudayaan adalah publik, baru aktor-aktor birokrasi di berbagai level. Karena itu ini harus menjadi perhatian,” ujarnya.

Selain itu, tantangan lain yang mengancam budaya Yogya menurutnya adalah masalah kurangnya tata kelola yang baik terhadap nilai-nilai budaya terutama budaya fisik. Ini menyangkut birokrasi dan regulasi. Karena itu perlu dibuat peraturan perundang-undangan yang senantiasa melindungi budaya itu sendiri.

“Misalnya walikota bisa membuat perda yang melestarikan kesenian rakyat di setiap kelurahan. Ini adalah suatu terobosan yang perlu dilakukan,” imbuhnya. (Den)

http://krjogja.com/m/read/156060/fanati … a-yogya.kr

Faithfreedom Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: