Artikel Faithfreedom Indonesia Kebangkitan Agama Hindu di Jawa

http://m.merdeka.com/khas/tidak-terpili … sma-1.html

Jumat, 23 Maret 2012 10:28:59
Tidak terpilih sebagai komandan Kopassus karena beragama Hindu
Reporter : Mohamad Taufik

262

share
136

Sudah 67 tahun usia Republik ini. Tapi di negeri dengan asas “Bhinneka Tunggal Ika”, ini penghormatan terhadap penganut agama minoritas masih kurang. Menurut Sang Nyoman Suwisma, Ketua Umum Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), bagi kelompok tertentu keberagaman belum dimaknai sebagai keistimewaan yang harus dihormati. Sebaliknya, perbedaan itu dipakai dalih menekan kelompok minoritas. Itulah yang masih dirasakan oleh penganut Hindu.

“Laporan saya terima dari beberapa daerah, ada penganut agama hindu mengurus KTP, tapi kecewa karena setelah KTP jadi, ternyata ditulis beragama lain,” kata dia ketika ditemui Muhammad Taufik dan Islahuddin dari merdeka.com di rumahnya, Jalan Kalisari 2, LAPAn, Jakarta Timur, Rabu (21/3) siang. Di beberapa daerah, rupanya pembuatan KTP masih sangat tergantung keyakinan apa yang dianut oleh penguasa di daerah itu.

Bentuk perlakuan tidak adil lain, di beberapa daerah umat Hindu masih belum berani membuat rumah-rumah ibadah berukuran besar. Mereka masih merasa ketakutan. Andai ada, dia melanjutkan, rumah ibadah itu berada di pojok-pojok kantor koramil dan kepolisian. Bahkan ketika masih berdinas sebagai tentara, dia juga sempat tidak terpilih menjadi Jenderal Pasukan Khusus (Kopassus) pada 1998, menggantikan Prabowo Subiyanto saat itu.

“Alasannya sangat tidak profesional karena agama Hindu yang saya anut,” ucapnya. Dengan demikian, ia melanjutkan, kerukunan antar umat beragama di Indonesia masih dalam perjalanan menuju lebih baik. Berikut penuturannya:

Bagaimana pendapat Anda tentang kerukunan beragama di Indonesia?

Saya kira kerukunan beragama di Indonesia saat ini masih dalam proses menuju lebih baik. Proses, karena belum sepenuhnya saling menghormati antar keyakinan. Ini bisa kita lihat masih ada pertentangan dalam hal agama, bahkan aliran-aliran dalam satu agama masih bertikai.

Semestinya dalam kehidupan bernegara bukan lagi menunjukkan itu. Namun, bagaimana timbal balik dari keyakinan yang selama ini kita anut dan percayai, seperti kehidupan penuh kasih sayang, saling menghormati. Kami dalam agama Hindu memiliki tiga hal harus dihindari, pertama menghindari pikiran buruk, kemudian bicara kasar dan jelek, dan tindakan buruk.

Apakah umat Hindu pernah menjadi korban kekerasan?

Umat Hindu di Indonesia jumlahnya kurang lebih 10 juta, tersebar di 31 provinsi. Mulai dari Papua, Sulawesi, Lampung, Sumatera Utara, Nanggroe Aceh Darussalam, Bali, dan daerah lainnya. Tugas saya sebagai pengurus Parisada Hindu, membuat saya makin sering melakukan kunjungan ke daerah-daerah, baik itu tugas organisasi untuk kerohanian atau sekadar mampir.

Saya pernah mendapat laporan dari umat saya di beberapa daerah. Karena jumlah mereka kecil, di beberapa tempat ada yang belum mendapatkan hak-haknya sebagai warga negara. Misalnya, ketika membuat KPT. Padahal dia sudah mengaku saya hindu, tapi di KTP justru ditulis beragama lain, tidak sesuai keyakinan pembuat KTP.

Ternyata masih ada hal seperti itu?

Iya. Buktinya, itu saya temukan langsung di lapangan, saat kunjungan di Toraja, Sulawesi Selatan. Saya langsung bertemu orangnya. Saya tidak mau berkomentar lebih tentang hal itu dan media juga jarang memberitakan itu. Silakan cek dan lihat sendiri.

Kami pemeluk Hindu di Indonesia dirugikan untuk ukuran jumlah. Ternyata data yang ada untuk jumlah pemeluk Hindu tidak bisa dikatakan valid. Itu adalah bentuk pemaksaan keyakinan identitas meski hanya dalam bentuk tulisan di KTP.

Bagaimana dengan diskriminasi politik?

Silakan lihat sendiri. Tapi ini menarik, ini saya rasakan sebagai anggota militer (dia berdiri, pamit masuk rumah mengambil buku berjudul “Bersaksi di Tengah Badai”, yang ditulis Wiranto). Silakan baca buku ini. Saya sempat tidak terpilih menjadi Jenderal Pasukan Khusus (Kopassus) pada 1998 karena alasan sangat tidak profesional. Karena saya beragama Hindu.

Menurut Anda, perhatian pemerintah kepada umat Hindu semakin baik?

Saya kira belum. Ini kalau kita lihat dengan perhatian-perhatian beberapa agama lain di Indonesia. Demian juga dengan perlakuan yang diterima oleh pemeluk Hindu. Padahal, makna “Bhinneka Tunggal Ika”, mayoritas melindungi minoritas. Mereka harus bebas menjalankan ibadah dan lain-lain.

Di komunitas Hindu Bali saya tidak pernah mengeluhkan hal ini. Saya katakan kepada mereka, meski penganut Hindu di Bali mayoritas, bukan berarti kita bisa semena-mena terhadap minoritas. Kita memiliki tugas melindungi minoritas. Pastikan kenyamanan dan keamanan mereka menjalankan keyakinan agama mereka.

Bali di kenal sebagai pusat umat Hindu di Indonesia, apakah dengan banyaknya tamu asing membuat pergeseran nilai-nilai religinya?

Pergeseran-pergeseran itu selalu ada tiap zaman. Namun, kita harus memiliki strategi menghadapi setiap perubahan. Hal itu sudah kita bicarakan dengan komunitas Hindu, namun setiap perubahan akan dilakukan harus tetap berpegang teguh pada kitab suci Weda.

Demikian juga ajaran-ajaran menghormati resi dan guru harus tetap kita tonjolkan. Merekalah yang diberikan ilham oleh Sang Hyang Widi Wase.

Biodata

Nama : Mayor Jenderal TNI (Purn.) Sang Nyoman Suwisma

Tempat/Tgl Lahir: Bangli, 10 Mei 1941

Agama : Hindu

Warga negara : Indonesia

Alamat : Jl. Kalisari Raya II, LAPAN, Nomor 5/6, RT 013/RW 001, Kelurahan Pekayon, Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur

Pendidikan akhir : Akademi Militer (Akmil), Magelang (Lulus 1971)

Status : Menikah

Istri : Ir. Rataya B. Kentjanawathy

Anak : tiga orang putra

Jabatan dan Karir

1. Pernah menjabat sebagai Instruktur Akmil (1974)

2. Komandan Kompi Parako, Komando Pasukan Khusus (Kopassus) (1974)

3. Wakil Komandan Kopassus (1994)

4. Komandan Korem 043/Garuda Hitam, Lampung (1994-1996)

5. Komandan Sekolah Calon Perwira Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Darat (TNI-AD), Bandung (1996)

6. Panglima Divisi I Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Kostrad) (1997)

7. Panglima Komando Daerah Militer (Kodam) VI/Tanjung Pura (1998)

8. Kepala Staf Kostrad (1999)

9. Asisten Teritorial Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KASAD) (2000)

10. Asisten Teritorial Kepala Staf Umum (Kasum) TNI (2001)

11. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Fraksi TNI/Polri, Komisi I (2003)

12. Direktur Utama (Dirut) Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) (2005)

13. Komisaris Global TV (2005)

14. Komisaris PT. Gajah Tunggal (GT Group, Jakarta) (2005)

Pengalaman organisasi kemasyarakatan

1. Pengurus Besar Persatuan Judo Seluruh Indonesia (1988–1990)

2. Ketua Umum Panitia Dharma Santi Nasional di Candi Prambanan (2000)

3. Pengurus Besar Payung Federasi Aero Sport Indonesia (PB FASI) (1997–2001)

4. Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Tinju Amatir Indonsia (PB Pertina) (2003–2007)

5. Ketua Umum Mahasabha Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) IX di Jakarta (2006, 2007)

(mdk/fas)

Faithfreedom Indonesia
Faithfreedom forum static

Tidak terpilih sebagai komandan Kopassus karena beragama Hin

http://m.merdeka.com/khas/tidak-terpili … sma-1.html

Jumat, 23 Maret 2012 10:28:59
Tidak terpilih sebagai komandan Kopassus karena beragama Hindu
Reporter : Mohamad Taufik

262

share
136

Sudah 67 tahun usia Republik ini. Tapi di negeri dengan asas “Bhinneka Tunggal Ika”, ini penghormatan terhadap penganut agama minoritas masih kurang. Menurut Sang Nyoman Suwisma, Ketua Umum Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), bagi kelompok tertentu keberagaman belum dimaknai sebagai keistimewaan yang harus dihormati. Sebaliknya, perbedaan itu dipakai dalih menekan kelompok minoritas. Itulah yang masih dirasakan oleh penganut Hindu.

“Laporan saya terima dari beberapa daerah, ada penganut agama hindu mengurus KTP, tapi kecewa karena setelah KTP jadi, ternyata ditulis beragama lain,” kata dia ketika ditemui Muhammad Taufik dan Islahuddin dari merdeka.com di rumahnya, Jalan Kalisari 2, LAPAn, Jakarta Timur, Rabu (21/3) siang. Di beberapa daerah, rupanya pembuatan KTP masih sangat tergantung keyakinan apa yang dianut oleh penguasa di daerah itu.

Bentuk perlakuan tidak adil lain, di beberapa daerah umat Hindu masih belum berani membuat rumah-rumah ibadah berukuran besar. Mereka masih merasa ketakutan. Andai ada, dia melanjutkan, rumah ibadah itu berada di pojok-pojok kantor koramil dan kepolisian. Bahkan ketika masih berdinas sebagai tentara, dia juga sempat tidak terpilih menjadi Jenderal Pasukan Khusus (Kopassus) pada 1998, menggantikan Prabowo Subiyanto saat itu.

“Alasannya sangat tidak profesional karena agama Hindu yang saya anut,” ucapnya. Dengan demikian, ia melanjutkan, kerukunan antar umat beragama di Indonesia masih dalam perjalanan menuju lebih baik. Berikut penuturannya:

Bagaimana pendapat Anda tentang kerukunan beragama di Indonesia?

Saya kira kerukunan beragama di Indonesia saat ini masih dalam proses menuju lebih baik. Proses, karena belum sepenuhnya saling menghormati antar keyakinan. Ini bisa kita lihat masih ada pertentangan dalam hal agama, bahkan aliran-aliran dalam satu agama masih bertikai.

Semestinya dalam kehidupan bernegara bukan lagi menunjukkan itu. Namun, bagaimana timbal balik dari keyakinan yang selama ini kita anut dan percayai, seperti kehidupan penuh kasih sayang, saling menghormati. Kami dalam agama Hindu memiliki tiga hal harus dihindari, pertama menghindari pikiran buruk, kemudian bicara kasar dan jelek, dan tindakan buruk.

Apakah umat Hindu pernah menjadi korban kekerasan?

Umat Hindu di Indonesia jumlahnya kurang lebih 10 juta, tersebar di 31 provinsi. Mulai dari Papua, Sulawesi, Lampung, Sumatera Utara, Nanggroe Aceh Darussalam, Bali, dan daerah lainnya. Tugas saya sebagai pengurus Parisada Hindu, membuat saya makin sering melakukan kunjungan ke daerah-daerah, baik itu tugas organisasi untuk kerohanian atau sekadar mampir.

Saya pernah mendapat laporan dari umat saya di beberapa daerah. Karena jumlah mereka kecil, di beberapa tempat ada yang belum mendapatkan hak-haknya sebagai warga negara. Misalnya, ketika membuat KPT. Padahal dia sudah mengaku saya hindu, tapi di KTP justru ditulis beragama lain, tidak sesuai keyakinan pembuat KTP.

Ternyata masih ada hal seperti itu?

Iya. Buktinya, itu saya temukan langsung di lapangan, saat kunjungan di Toraja, Sulawesi Selatan. Saya langsung bertemu orangnya. Saya tidak mau berkomentar lebih tentang hal itu dan media juga jarang memberitakan itu. Silakan cek dan lihat sendiri.

Kami pemeluk Hindu di Indonesia dirugikan untuk ukuran jumlah. Ternyata data yang ada untuk jumlah pemeluk Hindu tidak bisa dikatakan valid. Itu adalah bentuk pemaksaan keyakinan identitas meski hanya dalam bentuk tulisan di KTP.

Bagaimana dengan diskriminasi politik?

Silakan lihat sendiri. Tapi ini menarik, ini saya rasakan sebagai anggota militer (dia berdiri, pamit masuk rumah mengambil buku berjudul “Bersaksi di Tengah Badai”, yang ditulis Wiranto). Silakan baca buku ini. Saya sempat tidak terpilih menjadi Jenderal Pasukan Khusus (Kopassus) pada 1998 karena alasan sangat tidak profesional. Karena saya beragama Hindu.

Menurut Anda, perhatian pemerintah kepada umat Hindu semakin baik?

Saya kira belum. Ini kalau kita lihat dengan perhatian-perhatian beberapa agama lain di Indonesia. Demian juga dengan perlakuan yang diterima oleh pemeluk Hindu. Padahal, makna “Bhinneka Tunggal Ika”, mayoritas melindungi minoritas. Mereka harus bebas menjalankan ibadah dan lain-lain.

Di komunitas Hindu Bali saya tidak pernah mengeluhkan hal ini. Saya katakan kepada mereka, meski penganut Hindu di Bali mayoritas, bukan berarti kita bisa semena-mena terhadap minoritas. Kita memiliki tugas melindungi minoritas. Pastikan kenyamanan dan keamanan mereka menjalankan keyakinan agama mereka.

Bali di kenal sebagai pusat umat Hindu di Indonesia, apakah dengan banyaknya tamu asing membuat pergeseran nilai-nilai religinya?

Pergeseran-pergeseran itu selalu ada tiap zaman. Namun, kita harus memiliki strategi menghadapi setiap perubahan. Hal itu sudah kita bicarakan dengan komunitas Hindu, namun setiap perubahan akan dilakukan harus tetap berpegang teguh pada kitab suci Weda.

Demikian juga ajaran-ajaran menghormati resi dan guru harus tetap kita tonjolkan. Merekalah yang diberikan ilham oleh Sang Hyang Widi Wase.

Biodata

Nama : Mayor Jenderal TNI (Purn.) Sang Nyoman Suwisma

Tempat/Tgl Lahir: Bangli, 10 Mei 1941

Agama : Hindu

Warga negara : Indonesia

Alamat : Jl. Kalisari Raya II, LAPAN, Nomor 5/6, RT 013/RW 001, Kelurahan Pekayon, Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur

Pendidikan akhir : Akademi Militer (Akmil), Magelang (Lulus 1971)

Status : Menikah

Istri : Ir. Rataya B. Kentjanawathy

Anak : tiga orang putra

Jabatan dan Karir

1. Pernah menjabat sebagai Instruktur Akmil (1974)

2. Komandan Kompi Parako, Komando Pasukan Khusus (Kopassus) (1974)

3. Wakil Komandan Kopassus (1994)

4. Komandan Korem 043/Garuda Hitam, Lampung (1994-1996)

5. Komandan Sekolah Calon Perwira Tentara Nasional Indonesia-Angkatan Darat (TNI-AD), Bandung (1996)

6. Panglima Divisi I Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Kostrad) (1997)

7. Panglima Komando Daerah Militer (Kodam) VI/Tanjung Pura (1998)

8. Kepala Staf Kostrad (1999)

9. Asisten Teritorial Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KASAD) (2000)

10. Asisten Teritorial Kepala Staf Umum (Kasum) TNI (2001)

11. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Fraksi TNI/Polri, Komisi I (2003)

12. Direktur Utama (Dirut) Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) (2005)

13. Komisaris Global TV (2005)

14. Komisaris PT. Gajah Tunggal (GT Group, Jakarta) (2005)

Pengalaman organisasi kemasyarakatan

1. Pengurus Besar Persatuan Judo Seluruh Indonesia (1988–1990)

2. Ketua Umum Panitia Dharma Santi Nasional di Candi Prambanan (2000)

3. Pengurus Besar Payung Federasi Aero Sport Indonesia (PB FASI) (1997–2001)

4. Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Tinju Amatir Indonsia (PB Pertina) (2003–2007)

5. Ketua Umum Mahasabha Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) IX di Jakarta (2006, 2007)

(mdk/fas)

Faithfreedom Indonesia
Faithfreedom forum static

Kebangkitan Agama Hindu di Jawa

Kristen sama saja, Cuma jarang menggunakan kekerasan phisik, penindasan
yang dilakukan mereka kepada orang-orang Hindu lebih halus, yang sama
seperti Islam, menganggap orang-orang Hindu belum mendapatkan Kebenaran
dari Tuhan Yesus, sehingga perlu di-konversi (dirubah agamanya menjadi
Kristen)…

Sebagian orang bali mungkin sudah tahu : 1 desa di Dalung Tabanan
setengahnya dikonversi menjadi Kristen dengan cara -cara halus dan
licik..dibangun gereja dengan ornament Bali, bahkan ritual serupa dengan
ritual adat Hindu Bali, menggunakan banten dsb..Cuma rohnya dicabut,
doa-doa menggunakan bahasa Bali, tapi Sang Hyang Widhi diubah namanya
menjadi Sang Hyang Yesus..benar-benar cara-cara yang halus dan licik
untuk mengkonversi orang-orang yang sudah beragama….akibatnya Bale
banjar dibagi dua…setengah untuk yang sudah pindah ke Kristen,
setengahnya masih Hindu. Beberapa donatur Hindu baru-baru ini memberikan
sumbangan buat membangun kembali pura kecil, yang sederhana yang
ter-abaikan di bagian desa yang masih hindu di Dalung…sungguh kasihan
dan merana kehidupan sisa warga Hindu yang masih bertahan di desa ini.

Saya ikut simpati dengan masalah yang dihadapi pemeluk Hindu di Indonesia, khususnya di Bali. Ibu saya sendiri adalah orang Bali asli, dan keluarga saya dari sisi Ibu tentunya adalah pemeluk Hindu.

Saya akui, memang ada aliran-aliran Kristen yang sangat agresif menyebarkan aliran kristen mereka. Jadi kalau ada yang menyebarkan ajaran Yesus dengan cara yang keliru, salah, tidak sopan, licik, maka ini membuat saya sangat sedih dan perih hati.

Agama Hindu memang bukan agama missi tidak seperti Islam maupun Kristen,
tapi dengan demikian bukan berarti seenaknya boleh di-konversi baik
secara halus maupun dengan kekerasan. Sayangnya Pancasila dan Bhineka
Tunggal Ika Cuma sekedar slogan. Pasal 29 UUD 45, Cuma mengatur
kebebasan beragama dan menjalankan ibadah agama, tapi tidak ada
perlindungan terhadap kaum minoritas. Seharusnya ada undang-undang yang
melarang mengkonversi orang-orang yang sudah beragama yang diakui resmi
di Indonesia (saat ini ada 6 : masuknya Konfucu kembali) ….

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada penulis artikel di atas, saya sangat tidak setuju dengan ide beliau yaitu "…undang-undang yang melarang mengkonversi orang-orang yang sudah beragama yang diakui resmi di Indonesia (saat ini ada 6 : masuknya Konfucu kembali) …."

Apakah orang yang terlahir di keluarga atau lingkungan agama X, harus selama-lamanya memeluk agama X? Tentu saja tidak. Adalah hak dan kebebasan setiap orang untuk memegang keyakinan dan juga melepas atau mengganti keyakinan tersebut. Negara tidak berhak membatasi kebebasan setiap orang dalam hal keyakinan. Soal apakah keyakinan tersebut salah atau jahat, itu adalah masalah lain (forum kita ini buktinya).

Mudah-mudahan penyampaian fakta-fakta ini tidak membuat orang-orang
Islam dan Kristen menjadi tersinggung, karena kami umat Hindu adalah
korban, yang pantas marah, sedih atau tersinggung adalah kami umat Hindu
bukan kalian orang-orang Kristen maupun Islam…tapi kami umat Hindu
tidak dendam, Cuma sedih, berharap agar penindasan yang selama ini
terjadi dan terus terjadi bisa berkurang..paling tidak biarkan kami yang
jumlahnya sangat sedikit ini untuk bertahan, tolong jangan ubah kami
menjadi Islam ataupun Kristen…terimakasih…

Saya menghargai isi pikiran Bapak Gede Ngurah Ambara. Tapi bagaimana jika keputusan pindah keyakinan berasal dari orang itu sendiri?

Faithfreedom Indonesia

Gadis-gadis Hindu di Pakistan terus Diculik, Diperkosa, Dipaksa Masuk Islam dan Dikawini Pemerkosanya

Januari 2013: Gadis2 HINDU di PAKISTAN terus diculik, diperkosa, dipaksa masuk Islam & dikawini pemerkosanya
http://europenews.dk/en/node/62604

Image
Pemerkosaan terhdp anak2 dan wanita HIndu di provinsi Sindh sudah menjadi trend, tulis sk the Daily Bhaksar. Sejak Desember 2012, paling tidak dua gadis Hindu, usia 6 & 14 thn, diserang dan diperksoa. Korban 6 thn diculik dan diperkosa Hashim Magiro, pemilik sarang judi didekat rumah korban di distrik Umerkot, di Sindh.

Akhir Desember di desa Mubarak Tarr, Sindh, gadis 14 thn diperkosa pemimpin partai berkuasa setempat, the Pakistan Peoples’ Party (PPP). Menurut sk Pakistan, Express Tribune, sang penyerang memasuki rumah gadis tsb sementara dua tukang pukul lainnya menjaga agar tidak ada yg masuk, sementara si pelaku menyiksa sang ibu dan lalu memperkosa gadis remaja tsb, Manisha Kumari (foto atas). Manisha akhirnya dipaksa menikah dgn pemerkosanya krn diintimidasi keluarga pemerkosa. Dlm kedua kasus, baik polisi maupun rumah sakit menolak untuk mencatatkan kasus ini. :snakeman:

Menurut the Society for the Protection of the Rights of the Child (SPARC) India, pada thn 2011, 2.000 wanita dari sekte2 minoritas, termasuk Hinduisme, dipaksa masuk Islam lewat pemerkosaan, penyiksaan dan penculikan.

Amarnath Motumal, pengacara dan pemimpin umat Hindu di Karachi mengatakan kpd kantor PBB bagi Urusan Koordinasi dan Humaniter (the UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs), bahwa penargetan gadis2 HIndu bagi pemerkosaan dan pemaksaan masuk Islam adalah sebuah fenomena meningkat dimana setiap bulan di Karachi saja, paling minim 15 -20 insiden dilaporkan di kawasan multi-etnik spt Lyari. Juga, Komisi HAM Asia (the Asian Human Rights Commission (AHRC)) mencatatkan pemerkosaan gadis2 dan wanita2 Hindu pada jumlah 20 – 25. Kata AHRC, “Tujuan akhir penculikan dan pemaksaan agama ini adalah untuk membuat mereka masuk kedalam masy Muslim lewat nikah.” (dgn kata lain, mengurangi penduduk Hindu dan meningkatkan penduduk Islam)

“Kalau seorang wanita Muslim diperkosa, para ulama mempertanyakan karakter dan moralitas sang wanita dan menyalahkan pihak wanita. Kalau seorang wanita Hindu diperkosa, orang tidak peduli, para ulama tidak peduli, karena ada unsur rasisme disini,” kata jubir AHRC. :snakeman: :snakeman:

Thn 2012 saja, 3000 orang Hindu Pakistan melarikan diri ke India, jumlah yg 1/3 lebih dari tahun sebelumnya. Dawn.com dari Pakistan mengatakan ini diakibatkan kasus2 pemerkosaan/pemaksaan masuk Islam pada gadis2 Hindu, dan insiden2 serta tindak kriminal lainnya spt serangan terhdp kuil2 Hindu. TAPI ethnic cleansing jaman modern ini sama sekali tidak dilaporkan diluar Pakistan & India, dan bahkan dikedua negeri itu, nasib orang2 HIndu di Pakistan tidak dipedulikan sama sekali.

Faithfreedom Indonesia

Kebangkitan Agama Hindu di Jawa

http://www.swaveda.com/articles.php?action=show&id=49
Kebangkitan Gerakan Agama Hindu di Jawa, Indonesia
Oleh Thomas Reuter

Selama 1000 tahun, kerajaan2 Hindu subur di Jawa, sampai datangnya Islam di abad ke 15. Tetapi, di tahun 1970-an, bangkit kembali sebuah gerakan Hindu yg menyebar ke seluruh kepulauan Indonesia. Agama Hindu bahkan mendapat lebih banyak pengikut di saat negara sedang menghadapi berbagai krisis, terutama di Jawa, pusat politik di Indonesia.

Berdasarkan riset etnografis atas lima kelompok masyarakat pada candi2 Hindu besar, tulisan ini menelaah sejarah politik dan dinamika sosial bangkitnya kembali agama Hindu di Jawa.

Saya tertarik pada Jawa setelah melakukan penelitian selama 10 tahun di Bali. Kebanyakan masyarakat Bali menganggap diri mereka sebagai keturunan kaum ningrat kerajaan Hindu Jawa Majapahit yang menaklukkan Bali di abad ke 14. Jumlah orang Bali yang berziarah ke kuil2 Hindu di Jawa semakin bertambah. Malah mereka sering terlibat dalam pembangunan kuil2 dan pelaksanaan ibadah Hindu baru di Jawa. Mereka juga mendominasi perwakilan kaum Hindu di taraf nasional. Dan banyak pendeta2 Hindu Jawa yang dilatih di Bali.

Hal yang paling mempengaruhi gerakan ini :

1) Kebangkitan Agama Hindu dalam Konteks Sejarah dan Politik

a)
Banyak orang Jawa masih mempertahankan kepercayaan warisan tradisi Hindu selama berabad-abad sambil juga memeluk Islam. Kepercayaan ini dikenal sebagai agama Jawa (kejawen) atau Islam Jawa (Islam abangan, nama yg dipakai Geertz 1960). Beberapa kelompok masyarakat terpencil masih tetap memeluk Hindu secara terbuka. Salah satu kelompok ini adalah masyarakat Hindu yang tinggal di dataran tinggi Tengger (Hefner 1985, 1990) di Jawa Timur. Orang2 ‘Hindu’ Jawa yang ditulis di laporan ini adalah mereka yang tadinya Muslim dan kemudian murtad untuk memeluk agama Hindu.

Laporan tahun 1999 yang tidak pernah diumumkan oleh Kantor Statistik Nasional Indonesia memperkirakan terdapat 100.000 orang Jawa yang secara resmi murtad atau ‘kembali lagi’ pindah dari Islam ke Hindu dalam waktu 20 tahun terakhir. Pada saat yang bersamaan, cabang organisasi Hindu (PHDI) Jawa Timur mengatakan bahwa umatnya bertambah sampai berjumlah 76.000 di tahun ini saja. Angka ini tidak sepenuhnya dapat dipercaya, dan tidak dapat pula menggambarkan besarnya kebangkitan agama Hindu di Jawa karena ini hanya berdasarkan nama agama yang tercantum di KTP dan hanya berdasarkan laporan agama resmi. Menurut pengamatan saya, banyak yang pindah agama tapi tidak melaporkan diri.

Meskipun demikian, perhitungan jumlah orang Hindu di Jawa ternyata lebih banyak daripada orang Hindu di Bali. Data yang dikumpulkan secara independen selama penelitian saya di Jawa Timur menunjukkan bahwa tingkat cepatnya proses pindah agama melesat secara dramatis selama dan setelah jatuhnya Pemerintahan Rezim Suharto di tahun 1998.

Sebelum tahun 1962, agama Hindu tidak diakui secara nasional sehingga orang2 beragama Hindu tidak bisa mencantumkan agama mereka secara resmi. [2] Permohonan pengakuan Hindu sebagai agama resmi diajukan oleh organisasi agama dari Bali dan dikabulkan di tahun 1962 demi kepentingan masyarakat Bali yang mayoritas adalah Hindu. Organisasi yang terbesar yakni Parisada Hindu Dharma Bali yang kemudian diubah menjadi PHD Indonesia (PHDI) di tahun 1964, berupaya untuk memperkenalkan Hindu secara nasional dan bukan hanya milik Bali saja (Ramstedt 1998).

Di awal tahun 70-an, orang2 Toraja Sulawesi mengambil kesempatan ini dengan memeluk agama nenek moyang mereka yang banyak dipengaruhi oleh Hindu. Masyarakat Batak Karo dari Sumatra di tahun 1977 dan masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan di tahun 1980 juga melakukan hal yang sama (Bakker 1995).

b)
Identitas agama menjadi masalah hidup-mati saat agama Hindu memperoleh status resminya, yakni di saat terjadinya kerusuhan anti komunis di tahun 1965-66 (Beatty 1999). Orang2 yang tidak dapat menyebutkan agamanya digolongkan sebagai orang atheis dan dituduh komunis. Terlepas alasan politis ini, kebanyakan orang menganut Hindu karena juga ingin mempertahankan agama nenek moyang dan bagi masyarakat di luar Jawa, Hindu merupakan pilihan terbaik dibandingkan Islam. Sebaliknya, kebanyakan orang Jawa tidaklah melihat Hindu sebagai agama pilihan di saat itu karena kurang adanya organisasi Hindu dan juga karena takut pembalasan organisasi2 Islam besar seperti Nahdatul Ulama (NU). Anggota2 muda NU tidak hanya aktif membunuhi orang2 komunis tapi juga unsur2 Jawa Kejawen atau anti Islam yang banyak dianut Partai Nasionalis Islam milik Sukarno selama tahap pertama pembunuhan masal di jaman itu (Hefner 1987). Demi keslamatan nyawa, para pengikut Kejawen terpaksa mengumumkan diri mereka sebagai Muslim.

Pada awal Orde Baru, Presiden Suharto tidak mengikuti paham agama apapun. Baru di tahun 1990-an, Suharto mulai mendekati organisasi2 Islam. Awalnya Suharto adalah pembela aliran Kejawen yang gigih, tapi ia lalu mengajukan tawaran2 kepada kelompok Islam di masa itu karena berkurangnya dukungan masyarakat dan militer terhadap rezimnya. Tindakannya yang paling jelas tampak pada dukungannya atas Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), yang anggotanya secara terbuka menginginkan negara dan masyarakat Islam Indonesia (Hefner 1997).

Kekuatiran mulai tumbuh tatkala ICMI menjadi organisasi yang mendominasi birokrasi nasional dan melaksanakan program2 pendidikan Islam besar2an dan pembangunan mesjid2 melalui Departemen Agama dan sekali lagi menyerang aliran dan penganut Kejawen. Pada waktu yang sama, terjadi pembunuhan2 oleh ekstrimis Muslim atas orang2 yang dituduh sebagai dukun yang melakukan pengobatan tradisional Kejawen. (Ingat serentetan kasus pembunuhan dukun santet oleh ‘ninja’ yang terjadi di desa2 terpencil di Jawa?)

Pengalaman2 pahit dan penindasan2 membuat para penganut Kejawen takut dan juga benci. Dalam wawancara yang dilakukan di tahun 1999, orang2 yang baru saja murtad dan memeluk Hindu di Jawa Tengah dan Timur mengaku bahwa mereka sebenarnya tidak keberatan dengan identitas Islam. Tapi mereka sakit hati saat harus meninggalkan tradisi Hindu Jawa dengan tidak lagi melakukan upacara2 tertentu yang sudah menjadi bagian hidup mereka. Untuk menyalurkan hasrat politik, banyak penganut Kejawen dan pemeluk baru agama Hindu yang menjadi anggota partai politik Megawati Sukarnoputri. Sumber2 keterangan dari kelompok ini menyatakan bahwa kembalinya mereka kepada agama Majapahit (Hindu) merupakan kebanggaan nasional dan ini diwujudkan melalui pandangan politik baru yang penuh rasa percaya diri..

2)Kebangkitan Agama Hindu dalam Konteks Sosial dan Ekonomi

Ciri2 umum yang tampak di masyarakat baru Hindu di Jawa adalah kecenderungan untuk berkumpul di pura2 yang baru saja dibangun atau candi2 kuno yang dinyatakan kembali sebagai tempat ibadah masyarakat Hindu. Satu dari pura2 Hindu yang baru dibangun di Jawa Timur adalah

Contoh, Candi Mandaragiri Semeru Agung, di bukit dekat Gunung Semeru. Ketika candi ini selesai dibangun pd bulan Juli 1992 dengan bantuan keuangan Bali, hanya segelintir keluarga setempat secara resmi memeluk agama Hindu. Penelitian di bulan Desember 1999 menunjukkan masyarakat Hindu lokal berkembang menjadi lebih dari 5.000 keluarga.

Perpindahan agama besar2an yang sama juga terjadi di daerah sekitar Candi Agung Blambangan yang merupakan candi baru yang dibangun di daerah sisa2 kerajaan Blambangan, pusat kekuatan politis Hindu terakhir di Jawa. Yang tidak kalah pentingnya adalah Candi Loka Moksa Jayabaya (di desa Menang dekat Kediri), di mana raja dan petinggi Hindu, Jayabaya, dipercaya mencapai moksa (kemerdekaan spiritual).

Gerakan Hindu lain yang juga mulai tampak terjadi di daerah sekitar Candi P
ucak Raung
(di Jawa TImur) yang baru saja dibangun. Daerah ini disebut dalam sastra Bali sebagai tempat di mana begawan Hindu, Maharishi Markandeya, mengumpulkan pengikutnya untuk melakukan perjalanan ke Bali dan dengan itu membawa agama Hindu ke Bali di abad 5 M.

Kebangkitan agama Hindu juga tampak di daerah Candi Hindukuno di Trowulan dekat Mojokerto. Daerah ini dikenal sebagai ibukota kerajaan Hindu Majapahit. Gerakan Hindu setempat berusaha untuk mendapatkan ijin menggunakan candi yang baru saja digali sebagai tempat ibadah agama Hindu. Candi ini akan dipersembahkan bagi Gajah Mada, perdana menteri Majapahit yang berhasil mengembangkan kerajaan Hindu kecil itu sampai meliput wilayah dari Sabang sampai Merauke.

Meskipun terdapat lebih banyak pertentangan dari kelompok Islam di Jawa Tengah daripada di Jawa Timur, masyarakat Hindu ternyata juga berkembang di Jawa Tengah (Lyon 1980). Contohnya adalah di Klaten di dekat Candi Prambanan.

Image
Candi Prambanan

Selain itu candi2 besar Hindu juga dapat mendatangkan kemakmuran baru bagi masyarakat setempat. Selain mengundang biaya bagi pekerja2, pelebaran dan perbaikan candi itu sendiri, mengalirnya peziarah Bali yang terus menerus ke candi2 nasional itu menciptakan suatu industri baru bagi penduduk setempat. Di sepanjang jalan utama menuju Candi Semeru terdapat sederetan hotel dan toko2 yang menawarkan sesajen siap pakai, angkutan, dan makanan bagi para pendatang. Pada hari2 raya besar, puluhan ribu peziarah akan datang setiap hari. Peziarah yang memberi sumbangan dana besar bagi candi besar itu juga ternyata menarik perhatian penduduk setempat. Kemakmuran ekonomi orang2 Bali juga membuat penduduk setempat berpendapat bahwa ‘budaya Hindu ternyata lebih banyak mendatangkan keberhasilan pariwisata internasional dibandingkan budaya Islam’.

3) Kebangkitan Hindu sebagai Pemenuhan Ramalan Utopia (negara impian)

Pihak pendukung dan penentang agama Hindu biasanya menghubungkan bangkitnya agama Hindu secara tiba2 di Jawa dengan ramalan terkenal Sabdapalon dan Jayabaya. Dalam ramalan itu dinyatakan beberapa utopia dan bencana alam dahsyat, meskipun pengertian akan ramalan ini berbeda antara kedua pihak.
Harapan terpenuhinya ramalan itu merupakan cermin ketidakpuasan yang semakin membesar atas Pemerintahan Suharto yang korup dan tangan besi di tahun 1990-an sampai berakhir di tahun 1998, yang diikuti dengan demonstrasi mahasiswa di berbagai kota di Jawa sejalan dengan krisis ekonomi Asia. Krisis politik dan ekonomi yang lebih besar yang terus berlangsung di Indonesia saat ini juga semakin menumbuhkan harapan itu.

Presiden Abdurahman Wahid, presiden Indonesia pertama yang terpilih secara demokratis, ternyata mengundang banyak kritik karena pada masanya terjadi pertentangan agama, pemberontakan di Aceh dan Papua Barat dan skandal korupsi di Pemerintahan. [3] Masyarakat luas menduga ketidakstabilan politik di bawah Pemerintahan Megawati Sukarnoputri (sejak tanggal 23 Juli 2001) akan terus berlangsung. Selain itu dikhawatirkan penindasan seperti yang terjadi di jaman Suharto akan terulang lagi. Menurut penentang dan pendukung gerakan baru agama Hindu, keadaan politik yang tak menentu saat ini sesuai dengan ramalan Sabdapalon dan Jayabaya.

Menurut legenda, Sabdapalon adalah pendeta dan penasehat Brawijaya V, raja terakhir kerajaan Hindu Majapahit. Dikisahkan pula bahwa Sabdapalon mengutuk rajanya yang meninggalkan agama Hindu untuk memeluk agama Islam di tahun 1478. Sabdapalon lalu berjanji untuk kembali setelah waktu 500 tahun berlalu di masa merajalelanya korupsi politik dan bencana2 alam besar, untuk mengenyahkan Islam dari pulau Jawa dan membangkitkan kembali agama dan masyarakat Hindu Jawa.

Beberapa candi Hindu baru yang pertama dibangun di Jawa memang selesai dibangun sekitar tahun 1978, misalnya Candi Blambangan di daerah Banyuwangi. Sesuai dengan ramalan, Gunung Semeru meledak di waktu itu pula. Semua ini dianggap sebagai bukti tepatnya ramalan Sabdapalon. Pihak penentang Hindu dari agama Islam menerima prinsip ramalan itu, meskipun menafsirkannya secara berbeda. Beberapa kalangan Islam menganggap murtadin yang memeluk Hindu disebabkan karena kelemahan sesaat dalam masyarakat Islam itu sendiri, dengan menyalahkan sifat materialisme di dunia modern dan turunnya nilai2 Islami atau karena penerapan Islam yang tak murni melalui tatacara ibadat Kejawen (Soewarno 1981). Menurut pendapat mereka, ‘kembalinya Sabdapalon’ berarti ujian bagi Islam dan perlunya memurnikan dan membangkitkan kembali iman Islam.

Ramalan yang lain yang juga terkenal di seluruh Jawa dan Indonesia adalah ramalan Jayabaya. Buku tentang ramalan ini yang ditulis oleh Soesetro & Arief (1999) telah jadi best seller nasional. Ramalan Jayabaya juga seringkali didiskusikan di koran2. Ramalan2 kuno ini memang bagian dari percakapan dan diskusi sehari-hari dalam masyarakat Indonesia.

Tokoh legendaris Sri Mapanji Jayabaya berkuasa di kerajaan Kediri di Jawa Timur dari tahun 1135 sampai 1157 M (Buchari 1968:19). Dia terkenal atas usahanya menyatukan kembali Jawa setelah pecah karena kematian raja sebelumnya, Airlangga. Jayabaya juga terkenal karena keadilan dan kemakmuran kerajaannya dan karena pengabdiannya bagi kesejahteraan rakyatnya. Jayabaya dikenal sebagai titisan dewa Wishnu dan dianggap sebagai ‘ratu adil’ yakni raja yang bijaksana yang muncul di jaman edan di akhir putaran tatasurya untuk menegakkan kembali keadilan sosial, keteraturan dan keseimbangan di dunia. Banyak yang percaya waktu datangnya sang ratu adil yang baru telah dekat (seperti yang disebutkan dalam ramalan itu, “jika kendaraan2 besi bergerak sendiri tanpa kuda2 dan kapal2 berlayar menembus langit“), dan ia akan datang untuk menyelamatkan dan menyatukan Indonesia kembali setelah krisis hebat yang mengantarkan kepada awal jaman keemasan yang baru.

Dugaan terjadinya bencana besar dan utopia ini mengingatkan akan berakhirnya putaran tatasurya di masa kejayaan yang lampau untuk masuk ke jaman sekarang yang penuh kebobrokan moral, dan perlu diperbaiki kembali di masa depan dengan mengulangi kembali kejayaan di masa lampau.

Orang2 Hindu Jawa mengenang Sabdapalon dan Jayabaya dgn penuh kebanggaan karena mewakili jaman keemasan sebelum Islam. Kalangan Islam sendiri sebaliknya percaya bahwa Jayabaya itu sebetulnya adalah seorang Muslim dan Sabdapalon tidak mau masuk Islam karena saat itu dia berhadapan dengan bentuk Islam yang salah dan tidak murni lagi (Soewarno 1981). Meskipun begitu, para penelaah ramalan dari pihak Muslim dan Hindu setuju bahwa sekaranglah masa terjadinya bencana hebat. Mungkin dalam bentuk reformasi politik besar2an dan mungkin pula sebuah revolusi. Kedua belah pihak juga setuju bahwa sistem pemerintahan demokrasi yang murni hanya dapat terlaksana dengan adanya pemimpin yang bermoral sangat tinggi yang mencampurkan kesadaran demokrasi modern dengan karisma kepemimpinan tradisional.

Pengaruh ramalan Jayabaya tampak nyata pada diri masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan dan ini tampak pula dengan kunjungan2 rahasia yang dilakukan Presiden Abdurahman Wahid (sekali sebelum dia dicalonkan untuk jadi presiden dan sekali lagi sebelum dia terpilih) sewaktu menjabat ketua NU ke candi keramat Raja Jayabaya di Bali, Pura Pucak Penulisan. [4] Setelah kunjungan pribadi malam hari di pura Hindu kuno ini, demikian menurut pengakuan pendeta2 Hindu setempat, Gus Dur berbicara dengan mereka untuk waktu lama tentang ramalan2 Jayabaya dan kedatangan kembali ratu adil.

Image
Bukit Penulisan
————————————————————————

Footnotes

[1] Islam, for exam
ple, incorporated elements from the tribal traditions of Arab peoples and from Jewish and Christian texts such as the ‘Old Testament’.

[2] The other four state-recognized religions (agama) are Islam, Catholicism, Protestantism, and Buddhism (mainly Indonesians of Chinese ethnicity). Unrecognized religions are categorized by the state as minor
‘streams of belief’ (aliran kepercayaan) or are simply treated as a part of different local ‘customs and traditions’ (adat).

[3] As I am writing this, parliamentary procedures have been set into motion so as to impeach President Abdurahman Wahid on allegations of his involvement in corruption scandals.

[4] Pura Pucak Penulisan is still an important regional temple, and was a state temple of Balinese kings from the eighth century AD (Reuter 1998). Many statues of Balinese kings are still found in its inner sanctum, including one depicting Airlangga’s younger brother Anak Wungsu. Literary sources suggest that intimate ties of kinship connected the royal families of Bali with the dynasties of Eastern Javanese kingdoms, including Kediri. Jayabaya’s predecessor Airlannga, for example, was a Balinese prince.

[5] Sometimes apocalyptic expectations can reach such a pitch that members of the movement concerned may feel a need to bring about the very cataclysm the have been predicting. The poison gas attack in Tokyo launched by Japan’s AUM Shinokio sect is a recent example. It is still uncertain whether the recent bomb attacks on Javanese Christian churches over the christmas period of 2000 were the responsibility of radical religious groups, or were instigated by other political interest groups wishing to destabilize the country by inciting simmering inter-religious conflicts in Java to the same level of violence as in the troubled Molukka Province.

References

Adorno, T. W. 1978. ‘Freudian Theory and the Pattern of Fascist Propaganda’. In A. Arato & E. Gebhardt (eds), The Essential Frankfurt School Reader. Oxford: Basil Blackwell.

Bakker, F. 1995. Bali in the Indonesian State in the 1990s: The religious aspect. Paper presented at the Third International Bali Studies Workshop, 3-7 July 1995.

Beatty, A. 1999. Varieties of Javanese Religion. Cambridge: Cambridge University Press.

Buchari 1968. ‘Sri Maharaja Mapanji Garasakan’. Madjalah Ilmu-Ilmu Sastra Indonesia, 1968(4):1-26.

Ellingsen, P. 1999. ‘Silence on Campus: How academics are being gagged as universities toe the corporate line’. Melbourne: The Age Magazine, 11.12.1999:26-32.

Fox, J. & Sathers, C. (eds) 1996. Origins, Ancestry and Alliance: Explorations in Austronesian Ethnography. Canberra: Department of Anthropology, Research School of Pacific and Asian Studies, Australian National University.

Geertz, C. 1960. The Religion of Java. Chicago: The University of Chicago Press.

Hefner, R. 1985. Hindu Javanese: Tengger Tradition and Islam. Princeton: Princeton University Press.

Hefner, R. 1987. ‘The Political Economy of Islamic Conversion in Modern East Java’. In W. Roff (ed.), Islam and the Political Economy of Meaning. London: Croom Helm.

Hefner, R. 1990. The Political Economy of Mountain Java. Berkeley: University of California Press.

Hefner, R. 1997. ‘Islamization and Democratization in Indonesia’. In R. Hefner & P. Horvatich (eds), Islam in an Era of Nation States: Politics and Religious Renewal in Muslim Southeast Asia. Honolulu: University of Hawaii Press.

Kaplan, M. 1995. Neither Cargo nor Cult: Ritual Politics and the Colonial Imagination in Fiji. Durham (NC): Duke University Press.

Lee, K. 1999. A Fragile Nation: The Indonesian Crisis. River Edge (N.J.): World Scientific.

Lindstrom, L. 1993. Cargo Cult: Strange Stories of Desire from Melanesia and Beyond. Honolulu: University of Hawaii Press.

Lyon, M. 1980. ‘The Hindu Revival in Java". In J. Fox (ed.), Indonesia: The making of a Culture. Canberra: Research School of Pacific and Asian Studies, Australian National University.

Ramstedt, M. 1998. ‘Negotiating Identity: ‘Hinduism’ in Modern Indonesia’. Leiden: IIAS Newsletter, 17:50.

Reuter, T. 1998. ‘The Banua of CandiPucak Penulisan: A Ritual Domain in the Highlands of Bali’. Review of Indonesian and Malaysian Affairs, 32 (1):55-109.

Schwartz, H. 1987. ‘Millenarianism: An overview’. In M. Eliade (ed.), The Encyclopedia of Religion, Vol. 9:521-532. New York: MacMillan.

Smelser, J. 1962. Theory of Collective Behavior. London: Routledge and Kegan Paul.

Soesetro, D. & Arief, Z. 1999. Ramalan Jayabaya di Era Reformasi. Yogyakarta: Media Pressindo.

Soewarna, M. 1981. Ramalan Jayabaya Versi Sabda Palon. Jakarta: P.T Yudha Gama.

Stewart, K. & Harding, S. 1999. ‘Bad Endings: American Apocalypsis’. Annual Review of Anthropology 28:285-310.

Stewart, P.J. 2000. ‘Introduction: Latencies and realizations in millennial practices’. Ethnohistory 47(1):3-27. [Special Issue on Millenarian Movements.]

Timmer, J. 2000. ‘The return of the kingdom: Agama and the millennium among the Imyan of Irian Jaya, Indonesia’. . Ethnohistory 47(1):29-65.

Note: Dr Thomas Reuter is Queen Elizabeth II Research Fellow at the University of Melbourne’s School of Anthropology, Geography & Environmental Studies. This paper was published in The Australian Journal of Anthropology and is being reproduced with their permission.

Faithfreedom Indonesia

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.